Olahraga terbukti efektif memperbaiki suasana hati dan meredakan rasa sedih.(Dok. Magnific)
OLAHRAGA terbukti secara ilmiah dapat membantu meredakan rasa sedih dan memperbaiki suasana hati dalam waktu singkat. Namun, para pakar mengingatkan bahwa aktivitas fisik bukan berarti otomatis menghilangkan penyebab kesedihan atau menggantikan terapi medis pada kasus depresi klinis.
Pakar fisiologi dan olahraga dari FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Zaenal Muttaqien Sofro, menegaskan bahwa olahraga memiliki manfaat signifikan bagi kesehatan mental jika dilakukan secara terukur. Dalam penjelasannya pada 26 Februari 2026, ia menyebutkan bahwa aktivitas fisik selama 30–40 menit dengan intensitas yang sesuai membantu tubuh beradaptasi terhadap stres.
“Olahraga sebaiknya dipahami sebagai aktivitas yang terukur, bukan sekadar memaksakan tubuh bergerak sebanyak mungkin,” ujar Zaenal dilansir dari laman resmi Universitas Gajah Mada Ia juga (UGM).
Ia memperingatkan risiko overtraining akibat olahraga berlebihan yang justru dapat mengganggu kualitas tidur dan kondisi fisik. Sebaliknya, olahraga yang dilakukan bersama orang lain memberikan nilai tambah melalui interaksi sosial positif.
Dukungan ilmiah terhadap klaim ini diperkuat oleh meta-analisis dalam jurnal Psychosomatic Medicine (2024) yang melibatkan 4.671 peserta. Riset tersebut menunjukkan bahwa satu sesi olahraga saja sudah berkaitan dengan perbaikan suasana hati serta penurunan kecemasan dalam waktu 30 menit setelah beraktivitas.
Penelitian terbaru pada 2026 juga menemukan bahwa olahraga aerobik akut berfungsi sebagai strategi regulasi emosi jangka pendek yang efektif. Selain pelepasan endorfin, aktivitas aerobik diketahui meningkatkan endocannabinoid, molekul yang mengatur respons stres dan sistem penghargaan di otak, sehingga memicu rasa tenang setelah berlari atau bersepeda.
Untuk kondisi yang lebih berat, meta-analisis di The BMJ terhadap 14.170 peserta menunjukkan bahwa jalan kaki, jogging, yoga, dan latihan kekuatan berhubungan erat dengan penurunan gejala depresi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan aktivitas fisik teratur sebagai bagian dari penanganan kesehatan mental global.
Meski bermanfaat, penting untuk membedakan antara rasa sedih biasa dan depresi klinis. Olahraga membantu mengatur respons emosional terhadap kesedihan akibat kekecewaan atau kelelahan, namun pada kasus depresi sedang hingga berat, aktivitas fisik diposisikan sebagai pendamping psikoterapi dan obat-obatan, bukan pengganti bantuan profesional.
Rekomendasi Aktivitas: WHO menegaskan bahwa aktivitas fisik dalam jumlah apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Anda bisa memulai dengan jalan kaki cepat, yoga, atau bersepeda ringan untuk membantu memperbaiki suasana hati hari ini. (UGM/WHO/PubMed/Z-10)
















































