ilustrasi berobat umum.(MI)
BADAN Pusat Statistik menyatakan jumlah masyarakat yang memilih melakukan pengobatan sendiri turun dari 84,23% pada 2021 menjadi 78,43% pada 2025, yang menunjukkan peningkatan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.
Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan, turunnya angka morbiditas serta kebutuhan yang tak terpenuhi (unmet needs) juga menunjukkan peningkatan akses layanan kesehatan. Pada 2021, angka morbiditas 14,64% dan unmet need 5,44%, sementara pada 2025 angka morbiditas 12,66% dan unmet need 5,32%.
"Tapi menurunnya angka kesakitan dan semakin baiknya akses terhadap layanan kesehatan belum otomatis berarti bahwa setiap keputusan kesehatan yang diambil masyarakat sudah tepat," kata Sonny di Jakarta, Senin (14/9).
Dia menjelaskan, hampir 20% pengeluaran bulanan masyarakat adalah untuk makanan. "Ditambah pengeluaran kesehatan untuk obat-obatan yang dia beli sendiri. Jadi kalau sakit itu ternyata 47% masyarakat Indonesia yang sakit memilih untuk membeli obat-obatan sendiri dibanding mengacu pada resep," katanya.
Keputusan untuk membeli obat dan makanan sendiri menunjukkan bahwa peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) semakin signifikan dalam menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk.
Oleh karena itu, katanya, BPOM harus bisa memastikan bahwa publik memahami produk yang legal, bersertifikasi, cara menggunakan, risiko apabila mengkonsumsi secara tidak tepat, dan mampu membedakan antara informasi kesehatan yang benar dan informasi salah.
"Di sinilah data dan sains data memiliki peran yang semakin penting. Data tidak hanya membantu kita memahami apa yang terjadi, tetapi juga membantu kita memahami bagaimana dan di mana perilaku tersebut terjadi dan pola perilaku apa yang perlu kita cermati," katanya.
Pihaknya pun berkomitmen untuk membantu BPOM untuk membangun ekosistem data yang kuat untuk memastikan kebijakan dijalankan berdasarkan sains, sehingga dampaknya semakin dirasakan masyarakat.
"Kami membantu dalam penyusunan metodologi sampling, sampling survei yang dilakukan oleh Badan POM. Misalkan survei kesadaran masyarakat terhadap sediaan farmasi dan pangan olahan," katanya. (Ant/P-3)


















































