ilustrasi(Antara)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menetapkan sejumlah kawasan pegunungan dengan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tinggi sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah strategis ini diambil guna menekan potensi bencana di wilayah-wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa fokus utama operasi ini mencakup area pegunungan yang secara historis memiliki tingkat kerawanan tinggi. "Wilayah yang menjadi prioritas pastinya itu daerah dengan potensi kebakaran tinggi, baik di Bromo, Semeru, Arjuno, dan beberapa tahun lalu terjadi di Gunung Lawu. Jadi, itu yang menjadi prioritas kami," ujar Gatot saat meninjau penanganan kebakaran di Jemplang, Kabupaten Malang, Minggu (13/9/2026).
Koordinasi dengan BMKG dan Target Pelaksanaan
Gatot mengungkapkan bahwa rencana pelaksanaan OMC telah dikomunikasikan secara intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan hasil analisis data cuaca, periode Oktober 2026 dinilai sebagai waktu yang paling tepat dengan potensi awan terbaik untuk penyemaian.
"Bisa dilakukan apabila awan yang memang sudah siap dimatangkan ada dan yang bisa memastikan adalah BMKG, sehingga tetap datanya didukung oleh mereka. Kami berharap bulan depan potensi awan mendukung," tambahnya.
Dukungan Irigasi dan Skala Prioritas Daerah
Selain untuk mitigasi karhutla di wilayah pegunungan, modifikasi cuaca ini juga diproyeksikan untuk membantu sektor pertanian. OMC akan difungsikan untuk memenuhi pasokan air irigasi di wilayah pesisir utara Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro yang kerap mengalami kendala ketersediaan air.
Kendati demikian, Gatot menegaskan bahwa modifikasi cuaca tidak akan dilakukan secara merata di seluruh wilayah Jawa Timur. Pelaksanaannya akan sangat bergantung pada tingkat kebutuhan spesifik masing-masing daerah.
BPBD Jatim juga mempertimbangkan aspek ekonomi lokal, di mana beberapa daerah justru tidak membutuhkan intervensi cuaca karena sedang memasuki masa panen komoditas tertentu yang memerlukan kondisi kering. "Pelaksanaan akan melihat pada tingkat kebutuhan di masing-masing daerah," pungkasnya. (Ant/E-3)


















































