Bruce Springsteen memberi kejutan di penutup residensi Bon Jovi di Madison Square Garden usai sempat ditunda akibat infeksi sinus. Simak selengkapnya!(Rene Huemer)
JON Bon Jovi dan grup musiknya mengakhiri rangkaian residensi mereka di Madison Square Garden (MSG) dengan sebuah momen manis.
Pada penampilannya, musisi asal New Jersey tersebut memberikan kejutan kepada para penonton yang memenuhi arena dengan menghadirkan sahabat lamanya, Bruce Springsteen.
Setelah Bon Jovi memperkenalkan Springsteen sebagai "the king of the great state of New Jersey", keduanya tampil membawakan lagu duet "Who Says You Can’t Go Home" serta lagu hits milik Springsteen dari tahun 1978, "The Promised Land".
Pertunjukan tersebut menjadi penampil kesembilan sekaligus laga penutup dari rangkaian residensi Bon Jovi di MSG, yang juga menandai dimulainya Forever Tour. Ini merupakan tur perdana mereka dalam empat tahun terakhir sejak Jon Bon Jovi menjalani operasi pita suara pada 2022.
Kehadiran Springsteen di atas panggung terjadi beberapa hari setelah Bon Jovi terpaksa menghentikan konser kedelapan mereka lebih awal karena masalah kesehatan.
"Jangan buang potongan tiket Anda, saya akan memikirkan solusinya, oke. Simpan saja, saya akan mencari cara untuk menjadwalkan ulang," ujar Bon Jovi kepada penonton sebelum meninggalkan panggung. "Saya harus beristirahat malam ini. Saya merasa baik-baik saja, sampai jumpa lagi, bye bye."
Pada malam yang sama, perwakilan Bon Jovi memberikan pernyataan resmi terkait kondisi sang vokalis:
"Jon Bon Jovi berbicara dari atas panggung dan memberi tahu para penggemar bahwa ia sedang berjuang melawan infeksi sinus yang menyebabkan pertunjukan berakhir lebih awal. Sebagai bagian dari residensi Bon Jovi di Madison Square Garden, Jon telah berkali-kali menyampaikan bahwa merupakan suatu kebahagiaan baginya untuk kembali menggelar pertunjukan langsung bersama band. Informasi terbaru akan segera tersedia."
Hubungan dekat antara Bon Jovi dan Springsteen bukanlah hal baru. Bon Jovi bahkan menganggap sosok yang menginspirasinya itu sebagai figur penting dalam karier bermusiknya.
"Saya menganggap diri saya, secara bercanda, sebagai pangeran New Jersey," kata Bon Jovi mengenai posisinya dalam hierarki musik New Jersey setelah Springsteen, yang ia sebut sebagai "batu penjuru rock and roll New Jersey."
Ia juga menambahkan betapa besarnya pengaruh grup musik pendamping Springsteen terhadap musisi lokal.
"Tentu saja ada Frank Sinatra, ada Frankie Valli, ada Whitney Houston; ada penyanyi-penyanyi luar biasa, tetapi E Street Band sangat penting bagi siapa saja yang memegang gitar listrik," tambahnya.
Bagi Bon Jovi, membangun hubungan dekat dengan sosok idola menjadi salah satu pencapaian terbesarnya.
"Menjadi teman sangat baik dengannya adalah salah satu sorotan dalam karier saya karena mereka adalah Beatles bagi kami," ungkap Bon Jovi.
"[E Street Band] membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, 25 mil dari rumah Anda ada seseorang yang membuat rekaman. Mereka bukan sekadar poster di dinding; mereka ada di sana. Jadi saat Anda berusia 17 tahun, itu seperti melihat Yesus dan para murid-Nya," lanjutnya.
Rasa hormat dan kedekatan emosional tersebut juga sempat diungkapkan Bon Jovi dalam serial dokumenter Thank You, Goodnight: The Bon Jovi Story.
"Dia adalah pahlawan saat saya tumbuh dewasa. [E Street Band] semuanya lebih tua 12, 13, 14 tahun, jadi mereka seperti kakak laki-laki," jelasnya. "Lalu, hubungan kami sangat mendalam, pada tingkat persahabatan yang sama sekali berbeda, karena berapa banyak orang yang bisa berbicara seperti kami dalam ruang tertutup tentang kehidupan, cinta, dan kehilangan... dia benar-benar seperti seorang kakak."(People/Z-2)


















































