Buang Air Kecil Terasa tak Tuntas? Waspadai Risiko Retensi Urine dan Kerusakan Ginjal

3 weeks ago 12
Buang Air Kecil Terasa tak Tuntas? Waspadai Risiko Retensi Urine dan Kerusakan Ginjal Ilustrasi.(Dok. Magnific)

RASA ingin buang air kecil kembali sesaat setelah selesai kencing mungkin pernah dialami sebagian orang. Kondisi ini kerap dianggap sepele. Padahal, apabila terjadi terus-menerus, keluhan tersebut bisa menjadi salah satu tanda kandung kemih tidak dapat mengosongkan urine secara sempurna atau dikenal sebagai retensi urine.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), retensi urine adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu mengosongkan seluruh urine dari kandung kemih. Kondisi ini dapat terjadi secara akut atau tiba-tiba, maupun berkembang secara perlahan dan berlangsung dalam jangka panjang.

Pada retensi urine kronis, seseorang masih dapat buang air kecil, tetapi sebagian urine tetap tertinggal di dalam kandung kemih. Gejalanya dapat berupa rasa tidak tuntas setelah buang air kecil, sering buang air kecil dalam jumlah sedikit, sulit memulai aliran urine, serta aliran urine yang lemah atau terputus-putus.

Bisa Berdampak pada Kesehatan Ginjal

Retensi urine yang tidak ditangani berpotensi menimbulkan sejumlah komplikasi serius. NIDDK menjelaskan bahwa urine yang tidak dapat keluar dengan baik dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) karena bakteri memiliki kesempatan untuk berkembang biak di dalam cairan yang mengendap.

Selain itu, tekanan akibat penumpukan urine dapat menyebabkan urine mengalir kembali ke arah ginjal (refluks). Kondisi ini dapat memicu pembengkakan ginjal dan tekanannya berpotensi merusak jaringan ginjal. Dalam jangka panjang, kerusakan ini meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.

Kondisi kandung kemih yang terus-menerus terlalu penuh juga dapat menyebabkan otot kandung kemih meregang secara berlebihan dan mengalami gangguan fungsi. Akibatnya, kandung kemih menjadi semakin sulit berkontraksi secara efektif untuk mengeluarkan urine di masa mendatang.

Apa Saja Penyebabnya?

Penyebab rasa kencing tidak tuntas sangat bervariasi pada setiap individu. NIDDK menyebutkan beberapa kondisi medis yang dapat menghambat aliran urine, di antaranya:

  • Pembesaran prostat pada pria (BPH).
  • Penyempitan uretra (striktur).
  • Batu saluran kemih.
  • Konstipasi kronis.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Masalah pada otot dasar panggul.

Selain hambatan fisik, gangguan pada saraf yang mengatur kerja kandung kemih juga menjadi faktor penyebab. Kerusakan saraf ini membuat otot kandung kemih tidak berkontraksi dengan cukup kuat untuk mendorong seluruh urine keluar.

Langkah Pemeriksaan dan Penanganan

Pemeriksaan medis secara menyeluruh diperlukan untuk menentukan penyebab pasti. Salah satu metode yang umum digunakan adalah pengukuran postvoid residual, yaitu prosedur untuk menghitung jumlah urine yang tersisa di kandung kemih segera setelah pasien buang air kecil.

Pemeriksaan penunjang lainnya dapat mencakup tes laboratorium, pencitraan (USG), pemeriksaan urodinamik, hingga sistoskopi, tergantung pada penilaian dokter terhadap kondisi pasien.

Seseorang yang tiba-tiba tidak dapat buang air kecil sama sekali, disertai nyeri hebat dan pembengkakan di perut bagian bawah, harus segera mencari pertolongan medis. Retensi urine akut adalah kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat untuk mencegah kerusakan permanen pada kandung kemih dan ginjal.

Keluhan kencing yang terasa tidak tuntas dan terjadi berulang sebaiknya tidak diabaikan. Deteksi dini melalui pemeriksaan ke tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat sebelum muncul komplikasi yang lebih berat. (NIDDK/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |