Bukan Cuma Diabetes, Minuman Berpemanis Tingkatkan Risiko Kanker Lambung

3 weeks ago 38
Bukan Cuma Diabetes, Minuman Berpemanis Tingkatkan Risiko Kanker Lambung ilustrasi(Magnific)

KONSUMSI minuman manis secara berlebihan tidak hanya berdampak pada risiko obesitas atau diabetes, tetapi juga meningkatkan risiko seseorang terkena kanker lambung.

Temuan dari penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances mengungkapkan bahwa orang yang mengonsumsi minimal satu porsi minuman berpemanis tambahan setiap hari memiliki risiko terkena kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang meminumnya.

Sebelumnya, faktor risiko utama kanker lambung yang paling umum dikenal meliputi infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori), konsumsi alkohol berlebihan, kebiasaan merokok, usia lanjut, serta jenis kelamin laki-laki.

Wanita Berisiko Tiga Kali Lipat

Penelitian ini mencatat bahwa peningkatan risiko akibat konsumsi minuman manis terjadi baik pada wanita maupun pria. Namun, tingkat risikonya tercatat lebih tinggi pada kelompok wanita:

  • Wanita: Memiliki risiko kanker lambung 3 kali lipat lebih tinggi.
  • Pria: Memiliki risiko 2 kali lipat lebih tinggi.

Uniknya, para peneliti mengonfirmasi bahwa hubungan antara konsumsi minuman manis dan kenaikan risiko kanker lambung ini berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan infeksi bakteri H. pylori.

Selain itu, minuman dengan pemanis buatan (seperti teh diet dan soda bebas kalori) tidak menunjukkan keterkaitan dengan peningkatan risiko kanker lambung.

Tim peneliti menduga senyawa fruktosa, pemanis utama yang lazim digunakan dalam industri minuman, sebagai salah satu benang merah utama. Asupan fruktosa yang tinggi terbukti berkorelasi positif dengan kasus kanker lambung, terutama pada populasi wanita.

Riset ini memanfaatkan data daridua studi kesehatan terlama di Amerika Serikat, yakni Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Penelitian melacak pola makan dan rekam medis sebanyak 112.284 peserta selama puluhan tahun, dengan mendokumentasikan 278 kasus kanker lambung terkonfirmasi.

Peserta secara rutin mengisi kuesioner frekuensi makanan setiap empat tahun dengan porsi standar 8 ons (sekitar 236 ml), serta memperbarui data gaya hidup dan riwayat kesehatan tiap dua tahun. Analisis juga telah disesuaikan dengan faktor risiko lain, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Mayoritas peserta merupakan tenaga kesehatan berkulit putih berusia 30–75 tahun, sehingga dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan apakah temuan serupa berlaku pada kelompok etnis lain maupun populasi usia muda. (Ant/P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |