Bukan Sekadar Pengalih Perhatian, Musik Terbukti Ampuh Redakan Rasa Sakit

6 days ago 3
Bukan Sekadar Pengalih Perhatian, Musik Terbukti Ampuh Redakan Rasa Sakit Ilustrasi(MI/AI)

BANYAK orang menyalakan musik favorit saat merasa tidak nyaman atau kesakitan, dengan asumsi alunan nada akan mengalihkan pikiran dari rasa sakit tersebut. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa pengaruh musik terhadap tubuh manusia ternyata jauh lebih kompleks.

Sebuah ulasan terhadap 57 penelitian yang diterbitkan dalam jurnal *PAIN Reports* mengungkapkan bahwa musik tidak sekadar mengalihkan perhatian, melainkan memengaruhi cara otak memproses dan merespons sinyal rasa sakit.

"Temuan dari studi kami membantu menjelaskan mengapa musik dapat menjadi pendekatan yang efektif dan berisiko rendah untuk penanganan rasa sakit, serta bagaimana kita dapat memaksimalkan potensinya," ujar Joke Bradt, PhD, Profesor dan Direktur Program PhD Creative Arts Therapies di Drexel University.

Mengapa Teori Pengalihan Perhatian Tidak Cukup?

Selama ini, teori umum menyebutkan bahwa musik bekerja hanya dengan menyita perhatian pendengarnya. Namun, para peneliti menemukan beberapa bukti yang mematahkan asumsi tersebut.

Pertama, musik yang tidak disukai atau suara sumbang tetap menyita perhatian pendengar, tetapi gagal meredakan rasa sakit. Bahkan dalam sebuah eksperimen, musik yang tidak menyenangkan justru meningkatkan persepsi rasa sakit.

Kedua, dalam beberapa pengujian, musik yang diputar sebelum rasa sakit dimulai, bukan saat rasa sakit terjadi, tetap mampu mengurangi intensitas rasa sakit yang dirasakan setelahnya. Hal ini membuktikan bahwa efek pereda nyeri tetap bekerja meski tidak ada kompetisi perhatian secara langsung saat rangsangan sakit datang.

Tiga Kunci Utama Efektivitas Musik

Penelitian ini mencatat tiga faktor utama yang menentukan seberapa efektif musik dalam meredakan rasa sakit:

  • Kenikmatan Musik (Pleasantness): Musik yang benar-benar disukai dan dinikmati oleh pendengar memberikan efek pereda nyeri yang signifikan. Rasa senang secara emosional memegang peranan kunci dalam menekan sensasi tidak menyenangkan dari rasa sakit.
  • Kebebasan Memilih (Choice): Orang yang memilih sendiri musik yang ingin mereka dengarkan merasakan penurunan rasa sakit yang lebih besar dibandingkan mereka yang tidak diberi pilihan. Rasa memiliki kendali atas apa yang didengar membantu meningkatkan rasa percaya diri dalam mengelola rasa sakit.
  • Partisipasi Aktif dan Ritme: Mengetuk jarum, mengetuk drum sesuai irama, hingga bernyanyi bersama terbukti memberikan efek pereda nyeri yang lebih kuat daripada sekadar mendengarkan secara pasif. Dalam sebuah studi, aktivitas bernyanyi lagu pilihan bahkan mengungguli efek mendengarkan pasif maupun berdiam diri.

"Dalam pekerjaan klinis saya, saya lebih sering menggunakan pembuatan musik secara aktif, seperti bernyanyi, improvisasi vokal, dan memainkan instrumen, karena saya melihat ini jauh lebih efektif untuk nyeri kronis dibandingkan hanya mendengarkan musik," kata Bradt.

Apa yang Terjadi pada Otak?

Melalui pencitraan otak (brain imaging), para peneliti melihat bahwa musik bekerja pada dua tingkatan sistem saraf sekaligus. Musik mampu mengurangi aktivitas akibat rasa sakit pada area yang menerima sinyal langsung dari sumsum tulang belakang, sekaligus mengubah aktivitas di prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur respons kognitif dan emosional.

"Studi pemindaian otak menemukan bahwa musik dapat memengaruhi pemrosesan nyeri tahap awal di otak serta respons kognitif dan emosional tingkat tinggi terhadap nyeri," jelas Bradt.

Temuan menarik juga terlihat pada penderita fibromyalgia, suatu kondisi nyeri kronis. Setelah mendengarkan musik pilihan mereka, pola jaringan otak yang mengatur pikiran fokus pada diri sendiri (self-focused thought) berubah menjadi lebih mirip dengan pola otak orang sehat. Ini mengindikasikan bahwa musik berpotensi meredam pemikiran berulang yang sering kali memperburuk rasa sakit kronis.

Catatan Peneliti

Meskipun hasilnya menjanjikan, para peneliti memberi catatan bahwa sebagian besar studi yang diulas masih berbasis laboratorium pada sukarelawan sehat dengan rangsangan nyeri jangka pendek (seperti mencelupkan tangan ke air es). Selain itu, mayoritas eksperimen masih menggunakan musik rekaman.

Meski demikian, penelitian ini menegaskan bahwa musik merupakan modalitas terapi yang aman, minim risiko, dan berpotensi besar untuk dioptimalkan dalam manajemen rasa sakit. (Earth/z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |