CFD Jakarta Dua Hari Dinilai Efektif Tekan Emisi dan Dorong Transportasi Umum

5 days ago 3
CFD Jakarta Dua Hari Dinilai Efektif Tekan Emisi dan Dorong Transportasi Umum Warga berolahraga saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (13/9/2026).(ANTARA/SULTHONY HASANUDDIN)

Pengamat tata kota Yayat Supriyatna menilai wacana memperluas Car Free Day (CFD) di Jakarta menjadi dua hari setiap akhir pekan layak didorong. Kebijakan ini dipandang sebagai bagian strategis dari upaya menekan emisi kendaraan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga ibu kota.

Menurut Yayat, dampak kebijakan tersebut tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah kendaraan di jalan raya, tetapi juga dari potensi penghematan bahan bakar dan penurunan emisi karbon secara nyata. Ia menjelaskan bahwa perhitungan dampak lingkungan ini dapat dilakukan dengan mengukur volume bahan bakar yang tidak digunakan selama CFD, kemudian dikalikan dengan faktor emisinya.

“Kalau misalnya dengan CFD itu hemat 10.000 liter bahan bakar, kalikan saja satu liternya itu 2,3 sampai 2,6 CO2. Jadi kalau misalkan ada 10.000, bisa 25 ton CO2. Kalau 20.000, bisa 50 ton bersih saat CFD,” ujar Yayat saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (15/9).

Ia menekankan pentingnya kajian yang lebih terukur mengenai jumlah kendaraan yang dapat ditekan selama pelaksanaan CFD, termasuk dampaknya terhadap konsentrasi partikulat udara seperti PM2,5. Dengan data yang akurat, kebijakan CFD dapat dikaitkan langsung dengan keberhasilan program peningkatan kualitas udara di Jakarta.

Kembalikan Program Langit Biru

Yayat menyarankan agar Jakarta mengembalikan semangat program Langit Biru, yang dahulu menjadi pilar pengendalian pencemaran udara. Penambahan durasi CFD menjadi dua hari dinilai dapat menjadi momentum untuk menjadikan akhir pekan sebagai ruang khusus bagi warga untuk menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki.

“Kalau bisa dengan dua hari itu Jakarta betul-betul buat hari untuk angkutan umum dan hari untuk pejalan kaki,” tuturnya.

Manfaat CFD, lanjut Yayat, tidak hanya terbatas pada isu lingkungan. Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berolahraga di ruang publik akan mendorong pola hidup sehat bagi warga. Selain itu, kawasan CFD juga memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, terutama bagi para pedagang kaki lima.

Car Free Day kalau ditambah dua hari bisa mengurangi emisi lokal dengan kendaraan yang berkurang di situ. Kedua, mendorong orang Jakarta mau olahraga: jalan kaki, bersepeda, lari,” jelasnya.

Dua Hari CFD Mudah Diterapkan

Terkait teknis pelaksanaan, Yayat menilai penerapan CFD selama dua hari relatif mudah dilakukan. Saat ini, Jakarta sudah memiliki kawasan CFD yang mapan di koridor Thamrin-Sudirman dan Rasuna Said. Mengingat kedua kawasan tersebut didominasi oleh perkantoran, pengaturan lalu lintas pada akhir pekan dianggap tidak akan menemui kendala berarti.

“Ya gampang. Dengan ada di Rasuna Said dan Thamrin-Sudirman berarti daya tampungnya makin banyak,” kata Yayat.

Untuk meningkatkan daya tarik kebijakan ini, Yayat mengusulkan adanya integrasi antara CFD dengan transportasi umum melalui skema tarif khusus. Ia menyarankan agar MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Trans-Jakarta memberlakukan tarif yang sangat murah pada periode tertentu di akhir pekan, misalnya dari pagi hingga siang hari.

“Terus buat saja khusus untuk jalur MRT dan TJ di Thamrin-Sudirman itu Sabtu-Minggu dua hari itu tarifnya Rp1 misal. Ramai itu pasti,” usulnya.

Ia menegaskan bahwa skema ini tidak boleh hanya dilihat dari sisi keuntungan operator transportasi semata. Pemerintah perlu memprioritaskan manfaat jangka panjang yang lebih luas, yakni berkurangnya emisi, meningkatnya penggunaan transportasi publik, serta terciptanya ruang publik yang sehat bagi warga.

“Memang MRT tidak dapat untung, tapi yang diuntungkan kualitas udara bagus, orang Jakarta makin sehat,” pungkas Yayat. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |