Chung Ho-yong, Tokoh Kudeta dan Penumpasan Gwangju, Meninggal

6 days ago 4
Chung Ho-yong, Tokoh Kudeta dan Penumpasan Gwangju, Meninggal Chung Ho-yong.(Korea Times)

MANTAN Menteri Pertahanan Korea Selatan Chung Ho-yong, yang divonis bersalah atas perannya dalam penumpasan Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 1980, meninggal pada Minggu (13/9) waktu setempat, Korea Times melaporkan, Senin (13/9).  Ia berusia 94 tahun.

Kematian Chung menutup kesempatan untuk meminta pertanggungjawaban langsung dari salah satu tokoh kunci kelompok militer yang mengambil alih kekuasaan setelah pembunuhan Presiden Park Chung-hee pada 1979.  Meninggalnya Chung membuat jawaban tentang Gwangju ikut terkubur. 

Chung merupakan anggota terakhir yang masih hidup dari lima tokoh utama yang dikenal sebagai kelompok "militer baru" Korea Selatan. Kelompok itu menjadi kekuatan di balik pengambilalihan kekuasaan yang dipimpin Chun Doo-hwan setelah kudeta militer 12 Desember 1979.

Chung lahir di Daegu pada 1932. Ia lulus dari Akademi Militer Korea angkatan ke-11 bersama Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo, yang kemudian menjadi presiden Korea Selatan.

Selain Chung, tiga tokoh lain yang dianggap sebagai figur utama kelompok tersebut adalah mantan Kepala Staf Angkatan Darat Lee Hee-sung, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Hwang Young-si, serta Roh Tae-woo.

Chung ikut dalam kudeta 12 Desember 1979. Kariernya kemudian melejit. Ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat dan Menteri Pertahanan pada masa pemerintahan Chun dalam era Republik Kelima. Ia juga pernah menjadi anggota parlemen.

Perubahan politik terjadi setelah Kim Young-sam menjadi presiden. Pemerintahannya melakukan peninjauan besar-besaran terhadap kudeta 12 Desember dan operasi militer yang menumpas gerakan prodemokrasi di Gwangju pada Mei 1980.

Saat Gerakan Demokratisasi Gwangju berlangsung, Chung menjabat komandan Komando Perang Khusus Angkatan Darat. Ia kemudian didakwa atas keterlibatannya dalam operasi militer untuk menekan gerakan tersebut.

Mahkamah Agung Korea Selatan pada 1997 menguatkan vonis bersalah terhadap Chung dan menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara.

Namun, Chung tidak pernah mengakui tanggung jawab atau meminta maaf atas tindakannya. Ketika Komisi Kebenaran Gerakan Demokratisasi 18 Mei berupaya meminta keterangannya, ia menolak wawancara langsung.

Chung memilih memberikan pernyataan tertulis. Dalam pernyataan itu, ia tetap menyatakan tidak terlibat dalam penumpasan di Gwangju.

Dengan kematiannya, kesempatan untuk mendapatkan jawaban langsung mengenai peran salah satu tokoh utama kelompok militer baru dalam penumpasan Gwangju kembali hilang.

Kematian Chung juga menutup salah satu jalur untuk menagih pengakuan dan permintaan maaf dari tokoh yang telah menjalani proses hukum atas keterlibatannya dalam peristiwa tersebut.

Altar pemakaman Chung didirikan di Rumah Sakit Universitas Ajou, Suwon, Provinsi Gyeonggi. (B-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |