Ilustrasi(MI/NAUFAL ZUHDI)
CHIEF Economist Citi Indonesia, Helmi Arman menyampaikan bahwa terdapat berbagai faktor global dan juga faktor domestik yang dapat mendukung penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dari faktor global yang pertama, Helmi menyebut bahwa tren harga minyak dunia relatif akan lebih rendah terhadap kuartal sebelumnya, walaupun belum akan kembali ke level pra-konflik dalam waktu dekat.
“Perkiraan tim Komoditi Citi adalah bahwa, bila arus perdagangan minyak di selat Hormuz ini sepenuhnya sudah kembali lancar, itu kondisi pasar minyak dunia akan surplus, dalam arti supply minyak akan lebih besar dari demand minyak dunia. Surplusnya kami perkirakan lebih besar dibandingkan dengan surplus yang terjadi sebelum konflik. Sekitar 2027, surplus 4 juta barel per hari dengan asumsi selat Hormuz kembali normal, itu satu faktor global yang pertama, penurunan tren harga minyak dunia,” ucap Helmi di Jakarta, Kamis (20/8).
Kemudian faktor global yang kedua, Citi memperkirakan bahwa yield atau imbal hasil dari US Treasury, terutama yang tenor-tenor pendek akan bergerak turun hingga akhir tahun.
“Jadi kami punya view the fact tidak akan menaikkan suku bunga dan malah mungkin menurunkan suku bunga sebelum akhir tahun. Hal ini karena dalam perkiraan kami, inflasi inti di Amerika sebenarnya berada dalam tren yang menurun. Dan kami berespektasi dari sekitar sekarang 2,5% itu turun ke arah 2,2 atau 2,3% inflasi inti di Amerika,” sebut Helmi.
Helmi menjelaskan, penurunan inflasi inti di Amerika antara lain disebabkan oleh consumer demand yang relatif lemah meskipun pertumbuhan ekonomi di Amerika secara keseluruhan masih relatif kuat tapi ditopang kebanyakan oleh investasi AI.
Dirinya menambahkan, faktor global lain yang mendukung meredanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjelang akhir tahun adalah bahwa Citi memperkirakan dolar akan melemah terhadap euro.
“Sehingga indeks dolar yang kita kenal dengan DXY kami perkirakan akan bergerak turun. Ini disebabkan oleh perbedaan ekspektasi pergerakan suku bunga antara Amerika dan Eropa ECB, kami perkirakan akan menaikkan interest rate di bulan September, sementara US tidak menaikkan interest rate dan turun dalam perkiraan kami,” terang Helmi.
Selain dolar dengan euro, Citi juga memprediksi kondisi dolar terhadap yuan Tiongkok juga diperkirakan dolar melemah.
“Jadi yuan menguat terhadap dolar. Hal ini adalah karena surplus neraca transaksi berjalan atau surplus neraca perdagangan Tiongkok relatif kuat, melebihi 3% dari PBD-nya Tiongkok,” ucapnya.
Sementara untuk faktor domestik, Helmi menyampaikan bahwa penurunan harga minyak dunia yang terjadi akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III dibanding di kuartal III.
“Memang data merancat transaksi berjalan kuartal II belum ada tapi kami perkirakan cukup besar defisitnya, di atas 2% PDB. Dan kami perkirakan di semester 2 defisit neraca transaksi berjalan Indonesia ini kembali mengecil, sering dengan penurunan harga minyak ke level sekitar 1,5% dari PDB,” ungkap dia.
Penurunan defisit transaksi berjalan ini kelihatannya sudah kita bisa lihat, kalau kita lihat data merancat perdagangan bulan Juni itu sudah mulai lebih kecil defisitnya dibanding di bulan Mei.
Helmi menekankan, nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi sejak akhir tahun dan rupiah yang melemah tersebut menandakan dividen investasi asing yang direpatriasikan ke luar negeri dalam satuan dolar menjadi lebih kecil.
“Jadi ini faktor-faktor yang akan mengurangi defisit meraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III,” imbuhnya.
Lebih jauh, Helmi melihat bahwa interest atau appetite dari investor asing terhadap SBN atau obligasi negara sudah lebih meningkat di kuartal III ini dibandingkan dengan di kuartal II.
Adapun faktor-faktor domestik yang mendukung tren ini adalah pertama, defisit APBN untuk 2026 tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya karena pemerintah sudah merilis outlook 2026 di mana defisit APBN tetap di bawah 3% dari PDB.
“Ini seiring dengan pengurangan dan penundaan belanja-belanja tertentu termasuk belanja MBG dan juga peningkatan di sisi penerimaannya ada akselerasi penerimaan pajak. Kemudian rencana defisit APBN 2027 juga tetap di bawah 3% dari PDB. Dan ini dianggap oleh investor obligasi bahwa resiko oversupply dari SBN di pasar obligasi itu jadinya menurun di mana sebelumnya investor obligasi khawatir bahwa terjadi oversupply apabila defisit APBN menembus 3% dari PDB,” tandasnya. (H-2)


















































