Coco Gauff versus Jessica Pegula.(WTA)
COCO Gauff mengirim sinyal kuat menjelang turnamen Grand Slam AS Terbuka 2026. Petenis Amerika Serikat itu tampil dominan dengan menundukkan kompatriotnya, Jessica Pegula, dengan skor 6-2, 6-4 pada final WTA 1000 Cincinnati, Senin (24/8) WIB.
Gelar ini menjadi trofi pertama Gauff pada musim 2026, sekaligus yang pertama sejak kemenangannya di Wuhan pada Oktober tahun lalu. Keberhasilan di Cincinnati juga mengantarkan petenis peringkat empat dunia itu meraih gelar keduanya di turnamen tersebut, setelah sebelumnya sukses menjadi juara pada edisi 2023.
Dominasi sejak Awal Laga
Gauff tampil nyaris tanpa celah sejak set pertama dimulai. Menghadapi Pegula yang sehari sebelumnya menyingkirkan juara bertahan Iga Swiatek, Gauff justru mampu mengontrol ritme permainan melalui kecepatan dan agresivitasnya.
Ia langsung merebut dua gim servis Pegula untuk memimpin cepat 4-0. Meski Pegula sempat memperkecil ketertinggalan melalui satu break, Gauff segera merespons dengan kembali melakukan break untuk mengamankan set pertama dalam waktu 34 menit.
Pola serupa berlanjut pada set kedua. Gauff kembali mematahkan servis lawan di awal set dan memimpin 3-0. Walaupun Pegula terus berusaha mengejar, Gauff tetap tenang menjaga keunggulan hingga akhirnya mengunci kemenangan melalui match point pertamanya.
Kemenangan ini menyamakan rekor pertemuan (head-to-head) kedua petenis menjadi 5-5. Selain itu, ini merupakan kemenangan kedua Gauff atas Pegula pada musim ini, setelah ia menang di perempat final Wimbledon.
Transformasi Mental dan Teknis
Hasil di Cincinnati tahun ini menandai perubahan besar bagi Gauff dibandingkan penampilannya tahun lalu di tempat yang sama. Saat itu, ia tersingkir lebih awal setelah melakukan 16 double fault dan meninggalkan lapangan dengan air mata.
"Ini perbedaan yang besar. Sungguh luar biasa melihat apa yang bisa berubah dalam setahun," ujar Gauff.
Tahun lalu, masalah servis sempat membuatnya frustrasi hingga melakukan perubahan tim kepelatihan tepat sebelum AS Terbuka. Namun kini, Gauff tampil lebih solid dalam servis dan menjaga agresivitas permainan.
"Tahun lalu saya sangat frustrasi dengan permainan saya dan merasa kemampuan saya menurun. Anda selalu ingin merasa berkembang, atau setidaknya bertahan di level yang sama," imbuhnya.
Modal Menuju AS Terbuka
Meski kemenangan ini memberikan tambahan kepercayaan diri, Gauff tetap rendah hati dan tidak ingin menjadikannya ukuran pasti untuk penampilannya di New York pekan depan.
"Saya tidak berpikir ini menjadi indikator bahwa saya akan tampil bagus di New York. Saya datang dengan keyakinan bahwa saya bisa menemukan solusi dalam pertandingan, bahkan ketika tidak bermain dalam kondisi terbaik," kata Gauff.
Di sisi lain, Jessica Pegula tetap mengapresiasi performa lawannya. Petenis peringkat tiga dunia itu menilai dirinya sudah bermain cukup baik, namun Gauff berada di level yang berbeda.
"Saya rasa saya tidak bermain buruk, tetapi kamu bermain di level yang sangat tinggi. Tidak menyenangkan bermain melawanmu," canda Pegula saat seremoni penyerahan trofi. "Kamu memiliki momentum yang luar biasa menuju AS Terbuka."
AS Terbuka 2026 akan dimulai pada pekan berikutnya. Gauff menuju Grand Slam terakhir musim ini dengan motivasi tinggi setelah sebelumnya gagal menuntaskan peluang juara di final Miami dan Roma tahun ini.


















































