Ilustrasi(Anadolu/Fatemeh Bahram)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serius untuk melancarkan perang ekonomi terhadap Iran. Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada Teheran, tetapi juga menyasar negara mana pun yang masih menjalin hubungan bisnis dengan negara tersebut. Trump menegaskan bahwa konsekuensi ekonomi berat menanti mereka yang mengabaikan peringatan Washington.
Ancaman ini menciptakan tekanan baru bagi mitra dagang utama Iran. Risiko yang dihadapi setiap negara bervariasi, tergantung pada volume transaksi dan tingkat ketergantungan mereka terhadap komoditas asal Iran, terutama sektor energi dan hidrokarbon.
Tiongkok dan UEA di Garis Depan Risiko
Tiongkok menjadi negara dengan risiko tertinggi mengingat posisinya sebagai mitra dagang terbesar Iran. Lebih dari 25% aktivitas perdagangan luar negeri Iran bermuara di Beijing. Berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), nilai impor Iran dari Tiongkok mencapai US$18 miliar pada 2024, sementara ekspor Iran ke Tiongkok tercatat sebesar US$14,5 miliar.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah drastis dengan mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas perdagangan dengan Iran pekan ini. Padahal, UEA menyumbang 30,6% dari total impor Iran pada 2024 dengan nilai mencapai US$21 miliar.
| Tiongkok | US$14,5 Miliar | US$18 Miliar | Tahun 2024 |
| Uni Emirat Arab | US$6,4 Miliar | US$14,81 Miliar | 10 Bulan (Jan 2026) |
| Turki | US$7,91 Miliar | US$5,6 Miliar | 10 Bulan Terakhir 2025 |
| Rusia | US$930 Juta | US$1,36 Miliar | 10 Bulan Terakhir 2025 |
Dinamika Perdagangan Regional dan Global
Turki dan Rusia tetap menjadi pilar ekonomi penting bagi Teheran. Turki mencatatkan surplus perdagangan dengan Iran melalui ekspor hidrokarbon, sementara Rusia terus memperkuat kerja sama non-konvensional, termasuk skema barter gandum dan emas sejak 2022 serta pengembangan jalur logistik Laut Kaspia.
Di Asia Selatan, India menghadapi dilema besar. Nilai perdagangan bilateral yang sempat menyentuh US$17 miliar pada 2018-2019, anjlok drastis menjadi hanya US$1,7 miliar pada periode 2024-2025. Meski demikian, India masih mengandalkan minyak Iran dengan volume impor mencapai 276.000 barel per hari pada April 2026 guna menjaga ketahanan energi di tengah gangguan Selat Hormuz.
Negara-negara lain seperti Jerman, Jepang, Sri Lanka, dan Filipina juga tercatat masih memiliki arus perdagangan meski dalam skala yang lebih terbatas atau spesifik pada sektor obat-obatan dan pangan. Jerman, misalnya, mengekspor barang senilai kurang lebih Rp15,7 triliun (US$1 miliar) ke Iran sepanjang Januari-November 2025.
Secara keseluruhan, ancaman Trump menempatkan jaringan perdagangan lintas negara dalam posisi terjepit. Ketergantungan pada energi dan pasar Iran kini harus berhadapan langsung dengan risiko isolasi finansial dari sistem ekonomi global yang didominasi Amerika Serikat. (AFP/I-1)


















































