ilustrasi(Antara)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam masyarakat dan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak serius bagi satwa liar. Akibat kehilangan habitat, banyak satwa terpaksa keluar dari kawasan terdampak. Di Kalimantan Barat, tercatat sebanyak 33 satwa liar telah berhasil dievakuasi dari wilayah yang dilanda kebakaran.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa penyelamatan satwa merupakan bagian krusial dalam penanganan dampak karhutla. Hal ini menjadi prioritas terutama saat api mulai mengancam habitat asli mereka.
“Karhutla tidak hanya berdampak pada masyarakat dan lingkungan, tetapi juga mengancam satwa liar yang kehilangan habitatnya. Karena itu, kami terus memperkuat patroli, pemantauan, dan penyelamatan satwa di wilayah terdampak,” ujar Ristianto pada Kamis (17/9).
Detail Evakuasi Satwa
Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat yang bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), berikut adalah rincian satwa yang diselamatkan:
- Orangutan: 21 individu.
- Satwa liar lainnya: 12 individu (terdiri dari trenggiling, bekantan, lutung kelabu, kukang Kalimantan, dan musang tenggalung).
Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama mitra konservasi terus melakukan patroli intensif di kawasan terdampak. Untuk memastikan kondisi kesehatan satwa, tim medis disiagakan selama 24 jam guna memberikan penanganan segera setelah satwa ditemukan.
Imbauan bagi Masyarakat
Ristianto mengimbau agar masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri jika menemukan satwa liar yang keluar dari hutan akibat kebakaran. Interaksi langsung tanpa keahlian dapat membahayakan manusia maupun satwa itu sendiri.
“Jika masyarakat menemukan satwa liar terdampak karhutla, jangan melakukan penangkapan atau evakuasi secara mandiri. Segera laporkan kepada petugas dengan menyampaikan lokasi dan kondisi satwa agar dapat ditangani dengan tepat,” tambahnya.
Layanan Pengaduan (Call Center BKSDA):
- BKSDA Kalimantan Barat: 0811-577-6767
- BKSDA Kalimantan Tengah: 0811-5218-500
- BKSDA Kalimantan Timur: 0821-1333-8181
Penurunan Titik Panas (Hotspot)
Di samping upaya penyelamatan satwa, pengendalian api di lapangan terus diperkuat. Data SiPongi Kementerian Kehutanan per Rabu (16/9) pukul 21.00 WIB menunjukkan adanya penurunan jumlah titik panas (hotspot). Terdeteksi 479 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence), turun signifikan dari hari sebelumnya yang mencapai 1.037 titik.
Berikut sebaran hotspot di enam provinsi prioritas:
| Sumatera Selatan | 123 |
| Kalimantan Tengah | 102 |
| Kalimantan Barat | 21 |
| Jambi | 12 |
| Kalimantan Selatan | 11 |
| Riau | 11 |
Meskipun tren menurun, wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah tetap menjadi fokus utama karena konsentrasi hotspot yang masih tinggi. Pemerintah telah mengerahkan 53 unit armada udara, di mana 34 unit difokuskan untuk water bombing dan 19 unit lainnya untuk patroli serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).


















































