(MI/Yovanda Izabella)
ADA tempat unik di Pulau Kalimantan. Jika biasanya pulau terbesar ketiga di dunia ini terkenal dengan dataran rendah dan sungai-sungai besar, Krayan menjadi anomali itu. Krayan terletak di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kawasan ini merupakan area pegunungan dengan ketinggian rata-rata untuk areal permukiman 1.000 meter di atas permukaan laut.
Rumah-rumah warga, rerata dikelilingi sawah, berada di bawah pegunungan. Beberapa bahkan diapit dua pegunungan atau berada di antara lekukannya. Pemandangan yang sangat cantik dan indah. Pegunungan itu memiliki ketinggian antara 1.400 hingga 1.800 mdpl. Bahkan beberapa puncaknya mencapai 2.000 mdpl.
"Krayan saat ini terbagi menjadi lima kecamatan. Semua memiliki topografi yang sama," kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1, Taman Nasional Kayan Mentarang, Hery Gunawan, memulai percakapan dengan Media Indonesia, pertengahan Juli silam.
Di atas tanah tinggi yang berbatasan langsung dengan Malaysia inilah, masyarakat Dayak Lundayeh membudidayakan Padi Adan, varietas lokal unggul yang tumbuh sepenuhnya secara organik dengan memanfaatkan aliran air gunung yang jernih. Keunikan rasa dan aromanya yang khas membuat beras dari bentang alam ekstrem ini menjadi komoditas premium yang sangat diburu, bahkan hingga ke negara tetangga.
"Kami tak pernah kehilangan pembeli, bahkan kesulitan memenuhi permintaan pasar, terutama dari Malaysia," kata Otnel Akun, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Pun Bersama, Desa Long Pua, Kecamatan Krayan Barat. Topografi Krayan, jika dilihat dari atas, menyerupai mangkuk raksasa. Hamparan landai persawahan dikepung rapat oleh dinding-dinding pegunungan, membentuk bentang alam yang tidak biasa.
Berbeda dengan daerah dataran tinggi lain yang mengandalkan terasering di lereng-lereng curam, masyarakat di sini bertani di atas dasar lembah datar yang dialiri air melimpah. Hery Gunawan menjelaskan bahwa formasi geologis dan ekosistem hutan di sekeliling wilayah ini merupakan kunci utama dari suburnya pertanian lokal.
"Hutan hujan di pegunungan atas berfungsi seperti spons raksasa. Tutupan tajuk yang rapat menangkap awan hujan, menyerap airnya, lalu melepaskannya kembali secara perlahan melalui jaringan sungai kecil ke dasar lembah. Siklus alami inilah yang menjamin sawah-sawah warga terus terairi sepanjang tahun tanpa pernah kekeringan," papar Hery.
Isolasi geografis akibat bentang alam yang ekstrem ini pun secara tidak langsung menjadi perisai pelindung bagi kemurnian Krayan. Minimnya akses jalur darat menuju kota-kota besar di Kalimantan Utara justru menjaga kawasan perbatasan ini bersih dari polusi industri dan ketergantungan pada pupuk kimia sintetis.
Lanskap Krayan menyajikan sebuah keharmonisan yang utuh yakni hutan adat yang terjaga di puncak gunung, sabuk hijau Taman Nasional Kayan Mentarang di sepanjang lereng, dan hamparan sawah basah di dasar lembah yang menjadi tumpuan hidup sekaligus benteng kedaulatan pangan masyarakatnya.
Bentang lahan pertanian dan permukiman di Dataran Tinggi Krayan ini berbatasan langsung dengan hamparan hutan perawan Taman Nasional Kayan Mentarang. Letak geografis yang saling bertumpu ini membuat kelangsungan hidup pertanian di lembah bergantung sepenuhnya pada kelestarian ekosistem di hulu. Menjaga Taman Nasional Kayan Mentarang bukan lagi sekadar urusan konservasi satwa, melainkan syarat mutlak untuk menjamin keberlangsungan pasokan air yang mengairi sawah organik masyarakat Krayan.
Hery Gunawan menegaskan bahwa eksistensi Padi Adan tidak bisa dipisahkan dari benteng hijau di sekelilingnya. Karakter organik dari beras premium ini lahir karena kualitas air yang turun dari puncak-puncak pegunungan masih sangat murni dan bebas dari zat pencemar.
"Bagi masyarakat adat di perbatasan, Taman Nasional Kayan Mentarang adalah urat nadi pertanian mereka. Seluruh petak sawah basah di dataran tinggi ini sangat bergantung pada siklus hidrologi alami yang diatur oleh kelebatan hutan di atasnya. Jika tegakan pohon di area hulu terganggu, sistem tata air alami akan rusak," jelas Hery.
Ketergantungan ekologis ini menciptakan kesadaran kolektif yang kuat di kalangan masyarakat setempat untuk ikut menjaga batas-batas hutan. Kombinasi antara hukum adat Dayak Lundayeh yang ketat dan status perlindungan kawasan taman nasional pada akhirnya membentuk sebuah sistem pertahanan lingkungan yang kokoh. Selama rimba di lereng pegunungan tetap terjaga, aliran air jernih akan terus mengalir ke dasar lembah, memastikan kedaulatan pangan dan warisan budidaya beras organik Krayan tetap bertahan melintasi generasi.
Ikut Membantu Petani
Langkah nyata yang diambil oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang tak hanya kampanye perlindungan kawasan di atas kertas. Seolah ingin melengkapi anugerah alam yang melimpah itu, para petani di lingkar perbatasan ini juga dibekali dengan peralatan pertanian modern serta teknologi pengemasan yang mampu mendongkrak nilai ekonomi produk beras lokal mereka.
"Kami dibantu mesin penggiling padi dan traktor tangan. Semua membuat pekerjaan kami menjadi lebih mudah," kata Otnel. Sambil berjalan menyusuri pematang, Otnel kemudian menunjukkan beberapa unit traktor tangan yang sedang sibuk menderu, membalikkan tanah dan menggarap lumpur sawah. Pada pertengahan Juli, masyarakat Krayan memang sedang sibuk-sibuknya bersiap mematangkan lahan persawahan.
Target mereka jelas, pada awal Agustus, seluruh petak lahan basah itu sudah harus siap dan mulai ditanami bibit padi baru secara serentak. Modernisasi alat ini membawa perubahan signifikan bagi produktivitas kerja para petani tradisional di tengah keterbatasan tenaga kerja.
"Biasanya dengan peralatan manual, kami hanya sanggup mengerjakan satu petak sawah saja. Namun dengan bantuan traktor tangan dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, sekarang saya bisa menggarap hingga dua petak," aku Arifin, salah seorang anggota KTH Batu Pun Bersama.
Kelompok Tani Hutan (KTH) sendiri merupakan wadah organisasi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar atau di dalam kawasan hutan untuk mengelola potensi alam secara lestari. Kehadiran kelompok ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan kepentingan konservasi taman nasional dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga lokal melalui skema pemberdayaan masyarakat.
Seusai dari sawah, saat tiba di rumah Otnel, ketua KTH ini menunjukkan hasil yang luar biasa kepada Hery Gunawan. Kelompok yang dibina Balai Taman Nasional Kayan Mentarang ini bisa menghasilkan hampir 51 ton gabah kering pada musim panen 2025. Jumlah ini jauh melampui hasil tahun-tahun sebelumnya yang hanya ada di kisaran 30 ton.
Dari total panen itu, setelah melalui proses penggilingan, diperoleh lebih dari separuh gabah jadi beras bersih siap jual. Harga beras Adan saat ini berada di kisaran Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per kaleng atau per 15 kilogram. Nilai ekonomis yang sangat tinggi untuk komoditas pangan lokal di perbatasan.
"Anggota KTH ini mencapai 39 orang. Total hasil panen yang kita hitung berdasarkan gabah yang digiling di mesin penggilingan bantuan taman nasional ini kalau diuangkan mencapai hampir Rp1 miliar," kata Otnel bangga.
Mendengar itu, Hery Gunawan terlihat sumringah. Padahal total investasi bantuan traktor tangan dan mesin penggilingan yang dialokasikan sebelumnya hanya berkisar Rp50 juta.
"Tentu ini kabar baik. Bantuan yang kita serahkan kepada masyarakat itu terbukti memberikan multiplier effect (efek pengganda) yang nyata bagi ekonomi warga, sekaligus menjadi bukti bahwa menjaga hutan bisa berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat," ujar Hery tersenyum.
Otnel menjelaskan bahwa hasil melimpah pada akhir tahun 2025 tersebut didapat dari keteguhan petani dalam menjaga tradisi leluhur. Di Dataran Tinggi Krayan, masyarakat adat Dayak Lundayeh dikenal hanya menanam padi sekali dalam setahun.
Siklus ini sangat sakral. Mereka mulai menanam serentak pada akhir Juli setelah musim hujan tiba, lalu memanennya beramai-ramai pada bulan Desember.
Setelah Desember usai, praktis dari awal tahun hingga pertengahan tahun berikutnya, lahan sawah diistirahatkan dari aktivitas tanam. Selama berbulan-bulan itu, petani hanya fokus melakukan perawatan tanah, membersihkan saluran irigasi, dan mematangkan kembali unsur hara sawah agar siap ditanami pada siklus berikutnya.
Siklus panjang ini menjadi ciri khas sekaligus rahasia utama dibalik keunggulan kualitas padi Adan. Menurut Otnel, para petani bukannya tidak tahu cara melipatgandakan masa tanam menjadi dua atau tiga kali setahun seperti di daerah luar, namun mereka secara sadar menolaknya.
"Kalau dipaksa dipanen dua kali dalam setahun, kami takut kualitasnya turun. Rasa pulennya hilang, wanginya berkurang, dan tanahnya pasti kelelahan. Mutu beras Adan yang premium itu harus tetap kami jaga," tegas Otnel.
Bagi KTH Batu Pun Bersama, cara terbaik untuk mendongkrak volume produksi tanpa merusak kualitas bukanlah dengan mempercepat siklus tanam, melainkan dengan memperluas area bukaan sawah baru di dasar lembah. Dengan dukungan mekanisasi traktor tangan dari balai taman nasional, perluasan lahan yang dulunya berat kini menjadi jauh lebih rasional untuk dikerjakan oleh para petani setempat. Langkah perluasan yang terukur ini sekaligus mempertegas bahwa peningkatan produktivitas tidak harus mengorbankan kelestarian kawasan konservasi.
Kolaborasi Hijau di Garis Batas
Keberhasilan ekonomi yang dirasakan oleh KTH Batu Pun Bersama di Dataran Tinggi Krayan merupakan buah manis dari strategi pengelolaan kawasan konservasi yang inklusif. Pihak otoritas menyadari bahwa menjaga kelestarian hutan hujan tropis terbesar di Kalimantan tidak akan pernah berhasil jika mengabaikan kesejahteraan manusia di sekelilingnya.
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, menegaskan keterlibatan aktif masyarakat lokal adalah kunci utama dari pertahanan benteng hijau tersebut. Konsep penjagaan hutan modern kini tidak lagi menjauhkan warga dari alam, melainkan merangkul mereka sebagai mitra garis depan. "Seperti yang saya sampaikan, kita tidak bisa mengelola kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang ini secara sendirian. Tentunya kita melibatkan banyak pihak, dan salah satunya adalah masyarakat yang ada di sekitar kawasan," ujar Seno.
Langkah pemberdayaan ekonomi lewat bantuan alat pertanian dan pengemasan merupakan strategi terukur untuk mengalihkan ketergantungan langsung masyarakat terhadap pemanfaatan kayu hutan secara destruktif. Ketika kebutuhan ekonomi para petani di lembah sudah terpenuhi dan mandiri lewat hasil sawah organik yang melimpah, secara otomatis tekanan terhadap kerusakan ekosistem hutan di bagian hulu akan berkurang dengan sendirinya.
"Masyarakat yang ada di sekitar kawasan juga memiliki ketergantungan yang besar terhadap kawasan ini. Oleh karena itu, untuk melibatkan mereka, salah satu cara yang kami lakukan adalah melalui kegiatan pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat," lanjutnya menjelaskan.
Melalui sinergi ini, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang berharap pertumbuhan ekonomi di tingkat tapak dapat terus berjalan beriringan dengan komitmen perlindungan alam. Pola kemitraan ini menjadi bukti nyata di wilayah perbatasan bahwa kedaulatan pangan, kesejahteraan warga adat, dan kelestarian hutan konservasi bukanlah pilihan yang saling bertolak belakang, melainkan rantai kehidupan yang saling menguatkan.
"Diharapkan masyarakat yang ada di sekitar kawasan taman nasional ekonominya bisa meningkat, sehingga mereka juga mendukung penuh upaya pengelolaan kawasan ini. Sampai saat ini, kita terus bergerak bersama-sama dengan masyarakat, khususnya masyarakat adat yang ada di sekitar kawasan," pungkas Seno. (I-2)


















































