Jakarta, CNBC Indonesia - Microsoft baru saja merilis daftar 40 pekerjaan memiliki tingkat paparan generative artificial intelligence atau AI tertinggi. Posisi teratas diisi profesi berbasis bahasa dan informasi, seperti penerjemah dan juru bahasa, serta sejarawan.
Adapun, secara keseluruhan, pekerjaan yang paling rentan adalah pekerjaan yang melibatkan pengetahuan-seperti orang yang melakukan pekerjaan komputer, matematika, atau administrasi di kantor, ungkap Microsoft dalam laporan tersebut. Pekerjaan seperti sales juga berada di urutan teratas, karena seringkali melibatkan kegiatan berbagi dan menjelaskan informasi.
Meskipun Microsoft mengatakan bahwa tingginya tingkat ketergantungan terhadap AI dalam daftar 40 pekerjaan tersebut tidak secara otomatis berarti pekerjaan-pekerjaan tersebut akan digantikan oleh AI, tetapi hal ini cukup mengkhawatirkan bagi para profesional.
"Sangat menggoda untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan yang memiliki tumpang tindih tinggi dengan aktivitas yang dilakukan AI akan diotomatisasi dan dengan demikian mengalami kehilangan pekerjaan atau upah, dan bahwa pekerjaan dengan aktivitas yang dibantu AI akan ditingkatkan dan menaikkan upah," tulis para peneliti Microsoft, dikutip Jumat (24/4/2026).
"Ini akan menjadi kesalahan, karena data kami (Microsoft) tidak mencakup dampak bisnis hilir dari teknologi baru, yang sangat sulit diprediksi dan seringkali berlawanan dengan intuisi."
Di antara daftar 40 pekerjaan yang memiliki tingkat paparan generative AI tertinggi tersebut, terselip pekerjaan, seperti penulis dan jurnalis. Pekerjaan yang memiliki peran penting dan pengaruh signifikan di dunia.
Namun, harus diakui AI dengan cepat mengubah jurnalisme dengan membantu produksi berita, analisis data, dan distribusi konten, sejalan dengan banyaknya jumlah jurnalis di dunia menggunakan AI setiap harinya.
Berdasarkan riset Nieman Lab yang dipublikasikan di Reuters Institute for the Study of Journalism di Universitas Oxford bahkan menunjukkan 56% jurnalis di Inggris menggunakan AI setiap minggunya.
Meskipun alat-alat seperti Gemini, NotebookLM, dan perangkat lunak khusus membantu efisiensi dalam penyusunan draf, meringkas tulisan, dan melakukan optimasi SEO, 62% jurnalis memandang AI sebagai ancaman signifikan bagi industri karena masalah etika, risiko disinformasi, dan hilangnya pekerjaan.
Pembahasan mengenai AI di redaksi atau ruang media ini menjadi salah satu topik menarik di World Journalist Conference 2026, di Korea Selatan, beberapa waktu lalu (29/3/2026).
Dalam sesi konferensi kedua, "AI Applications in the Newsroom and the Future", Director, Social Media di Desk Internasional Xinhua News Agency Kaijun Zheng mengungkapkan bahwa organisasinya menggunakan 230 AI tools di sistem kantornya.
Di China, pengembangan AI menjadi sektor prioritas bangsa sehingga penggunaannya sangat masif.
Bahkan, dia mengaku aktif menggunakan sebanyak 20 AI tools dalam telepon selular dan laptopnya. AI tools tersebut membantu pekerjaan dirinya.
"Kami melihat mereka (AI tools) memperoses data, menerjemahkan wawancara, memoles bahasa, membuat draf, dan memvisualisasikan ide...Ini membebaskan kami dari pekerjaan yang membebani dan membuat kami fokus ke pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia," katanya.
Kendati mengaku sebagai jurnalis pengguna AI, tetapi dia menyadari bahwa jurnalisme juga menghadapi fenomena 'AI Slop' atau sejumlah kesalahan yang dibuat AI seperti kesalahan subtitles hingga kisah bohong (fabricated story). AI Slop inilah yang berisiko bagi jurnalis karena mereka bisa kehilangan kepercayaan publik. Masalah lainnya yang tak kalah penting adalah hak cipta atau copyright.
"Jika AI mengutip atau merangkum tulisan jurnalis tanpa membutuhkan kredit atau memberikan kompensasi. Apakah itu inovasi atau plagiarisme?" ungkapnya.
Menurutnya, regulasi mengenai hak cipta ini harus diperbanyak terutama di level global. Permasalahan selanjutnya muncul dalam bentuk pertanyaan: "Jika AI sudah mengerjakan pekerjaan jurnalis, lalu apalagi yang harus dikerjakan jurnalis?"
Dia menilai pekerjaan 'lapangan' yang dilakukan jurnalis tidak akan tergantikan dengan algoritma. Jurnalis tetap berada di front terdepan, bertemu dan mewawancarai narasumber.
"Karena begini perbedaannya: AI berurusan dengan probabilitas, menjahit pola yang sudah ada atau terjadi sebelumnya. Jurnalisme berurusan dengan kebenaran, dan melihat ke masa kini," kata Zheng.
Selain itu, dia melihat AI dapat membuat 10 lead tulisan yang berbeda, 5 angle tulisan dan 3 alternatif headline. Namun, keputusan memilih angle yang edukatif dan menarik dibaca publik atau menyaring fakta yang sesuai tetap ada di tangan jurnalis. Inilah yang membuat Zheng yakin jurnalis tidak akan tergantikan AI.
"AI dapat mengkreasi, tetapi dia tidak bisa mereplikasi judgement...AI juga tidak bisa menggantikan empati," ujarnya.
Bangun Mesin AI Sendiri
Deputy Director, Future & Strategy Department Seoul Economic Daily Woo Seung Ho menuturkan perusahaan media tempatnya bekerja membangun empat mesin AI. Keempat AI mesin ini adalah AI NOVA, AI PRISM, AI WAVE dan AI GLOBE.
Keempat mesin AI ini mampu membantu pekerjaan jurnalistik. AI NOVA membantu dari sisi manajemen konten dan membantu jurnalis untuk melakukan drafting, proofreading, penerjemahan hingga pemberian saran headline. Sementara itu, AI PRISM membantu mempersonalisasi dan menyusun artikel berita yang akan dikirim menjadi newsletter.
Sementara itu, AI WAVE berfungsi mengkonversi teks artikel menjadi paket video a.l. skrip, caption, voice synthesis, metadata dan lainnya. Terakhir, AI GLOBE membantu menerjemahkan artikel berita ekonomi dari bahasa Korea ke bahasa Inggris. Namun, tidak hanya menerjemahkan, mesin AI ini juga membantu menambahkan latar belakang di dalam artikel berita tersebut bagi pembaca asing yang tidak memahami konsep ekonomi Korea.
"Kami menjalankan semua operasi ini dengan dua jurnalis dan empat anak magang. Tidak ada vendor eksternal," kata Seung Ho.
Dari pengalamannya mengembangkan mesin AI di redaksi, ternyata bagian yang terberat adalah adopsi, sementara pengembangan teknologinya ternyata menjadi bagian termudah. Awalnya jurnalis akan penasaran menggunakan AI, tetapi setelahnya pengguna mulai berkurang.
Jurnalis kembali ke kebiasaan lama dan mesin AI tidak digunakan lagi alias nganggur. Selain itu, banyak punya resistensi dari jurnalis senior. Alasannya bisa dimengerti.
"Kenapa saya harus percaya pada mesin dengan byline (nama) saya (di dalam tulisan)? Beberapa merasa lebih cepat melakukan pekerjaan dengan cara lama," katanya.
Sementara itu, jurnalis lainnya ketakutan AI akan menggantikan pekerjaan mereka dan mereka kehilangan mata pencarian. Mengatasi hal ini, Seoul Economic Daily akhirnya melakukan integrasi mesin AI ke dalam CMS jurnalis.
Tanpa harus melakukan login berbeda dan tanpa harus mempelajari platform baru, AI LINK menjadi lebih mudah. Hal kedua, pengembangan AI LINK dilakukan langsung oleh jurnalis, bukan developer dari luar. Alhasil, desain AI LINK sesuai dengan alur kerja jurnalis. Penggunaan AI pun terasa lebih intuitif dibandingkan paksaan.
Menurut Seung Ho, pengembangan mesin AI internal justru membantu jurnalis dan medianya. Sejauh ini, Seoul Economic Daily telah mempublikasikan 16.500 lebih artikel berita dengan bantuan AI. Jumlah halusinasi di dalam artikelnya nol. Dengan capaian ini, pendekatan sistematis terkait dengan penggunaan AI dan keamanannya bisa bekerja dengan baik.
Dengan demikian, dia pun memastikan jurnalis tidak perlu takut pekerjaannya tergantikan. "Saya tegaskan AI LINK bukan robot jurnalis. Mesin AI ini tidak pergi keluar dan mencari berita. Ini tidak menggantikan jurnalis," ujarnya.
(haa/haa)
Addsource on Google

2 hours ago
3

















































