Pemandangan Neptunus dan bulan-bulannya, yang diabadikan oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb.(NASA, ESA, CSA, STScI; Pengolahan Gambar: Joseph DePasquale (STScI), Naomi Rowe-Gurney (NASA-GSFC))
PENYELIDIKAN terbaru mengungkap tiga bulan di planet Neptunus kemungkinan lahir dari sisa-sisa dunia es kuno yang hancur berkeping-keping. Kehancuran dahsyat tersebut dipicu oleh Triton, bulan terbesar milik Neptunus.
Temuan ini memberikan kesempatan langka bagi para peneliti untuk mengintip bagian dalam objek luar angkasa yang sebelumnya misterius.
"Bagian dalam bulan-bulan es yang besar biasanya tersembunyi secara permanen dari kita, terkubur di bawah lapisan es air yang tebal," kata Ryleigh Davis, ilmuwan planet dari University of California, San Diego, yang memimpin studi tersebut kepada Space.com.
"Bulan-bulan dalam Neptunus mungkin menjadi satu-satunya tempat di tata surya di mana kita dapat mengamati material tersebut secara langsung, karena peristiwa katastrofal secara esensial membalikkan dunia kuno itu luar dalam," lanjutnya.
Triton merupakan bulan terbesar di antara 16 bulan Neptunus yang diketahui. Lebih dari 99 persen total massa seluruh bulan Neptunus terkonsentrasi di Triton, yang ukurannya hampir setara dengan Pluto.
Berbeda dari bulan-bulan raksasa lain di tata surya yang mengorbit searah dengan rotasi planet induknya, Triton justru mengorbit ke arah berlawanan. Lintasan retrograd ini mengindikasikan bahwa Triton tidak terbentuk di sekitar Neptunus, melainkan tertangkap oleh gravitasi Neptunus dari bagian luar tata surya. Saat tertangkap, Triton bertindak bak bola besi penghancur yang menghantam bulan-bulan asli milik Neptunus.
Untuk mengurai misteri tersebut, para ilmuwan menganalisis cahaya inframerah-dekat pada tiga bulan dalam Neptunus, Larissa, Galatea, dan Proteus, serta sistem cincinnya menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb.
Hasil analisis mengungkapkan keberadaan mineral tanah liat (phyllosilicates kaya magnesium) pada cincin serta Bulan Larissa dan Galatea. Mineral ini membutuhkan pemanasan kuat dalam jangka panjang untuk dapat terbentuk, yang umumnya terjadi di bagian dalam objek es raksasa.
"Hal yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa kami menemukan mineral tanah liat sama sekali," ujar Davis.
"Itu benar-benar tidak ada dalam daftar hal yang kami perkirakan akan ditemukan," tambahnya.
Uniknya, para peneliti tidak menemukan es air pada ketiga bulan maupun sistem cincin tersebut, padahal objek di kawasan tersebut didominasi oleh es.
"Itu sangat mengejutkan karena segala sesuatu di bagian tata surya ini sangat beres. Jadi, kami cukup yakin material itu harus berasal dari bagian dalam sesuatu yang cukup besar untuk menghasilkan cukup panas hingga mencairkan es airnya. Kami pikir tempat yang paling memungkinkan adalah sistem awal bulan-bulan es, meskipun ke mana es itu pergi masih menjadi misteri," jelas Davis.
Sementara itu, mineral tanah liat tersebut tidak ditemukan pada Proteus, bulan terbesar dari ketiga objek yang diteliti. Proteus diduga terbentuk dari bagian puing-puing yang miskin mineral tanah liat atau telah mengalami pemanasan lanjutan yang menghancurkannya.
Seluruh bulan dan cincin tersebut juga terdeteksi memiliki mineral terhidrasi yang belum bisa diidentifikasi. Davis menegaskan, pengiriman wahana antariksa khusus ke Neptunus adalah "langkah logis berikutnya" untuk memecahkan teka-teki evolusi planet es raksasa tersebut. (Space/Z-2)
















































