Diplomasi Mentok, Apa Langkah Berikutnya?

5 days ago 22

Oleh : Yuri O Thamrin; duta besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan terakhir konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa perang ini belum menemukan titik akhir yang jelas. Upaya diplomasi yang sedang berlangsung di Islamabad berjalan berdampingan dengan dinamika militer yang belum sepenuhnya mereda.

Opsi eskalasi tetap terbuka, baik melalui peningkatan tekanan militer oleh Amerika maupun respons asimetris dari Iran. Dalam konteks ini, yang terjadi bukanlah peralihan menuju perdamaian, melainkan fase di mana tekanan militer dan negosiasi politik berlangsung secara simultan, tanpa kepastian arah yang tegas.

Perundingan langsung antara Washington dan Teheran—yang merupakan kontak tingkat tinggi pertama dalam beberapa dekade—memang masih berlanjut, tetapi berlangsung dalam suasana sangat sulit. Perbedaan posisi tetap tajam, terutama terkait isu nuklir, sanksi, dan pengaturan Selat Hormuz. Bahkan setelah puluhan jam pembicaraan, kedua pihak belum mampu menjembatani kesenjangan mendasar tersebut, meskipun masing-masing masih membuka kemungkinan kelanjutan dialog.

Di balik proses diplomasi yang berjalan ini, tuntutan kedua pihak menunjukkan mengapa kompromi begitu sulit. Amerika menuntut komitmen tegas Iran untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir. Sebaliknya, Teheran menuntut pencabutan sanksi, kompensasi perang, pencairan aset yang dibekukan, pengakuan atas hak pengayaan uranium, serta mempertahankan program misilnya. Iran juga menegaskan posisi strategisnya di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan pengaturan lalu lintas dan biaya transit. Kombinasi tuntutan ini membuat ruang negosiasi menjadi sangat sempit.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak awal memang lebih menyerupai “pause tanpa solusi.” Di lapangan, pelanggaran terus terjadi: serangan di Lebanon berlanjut, ancaman terhadap Selat Hormuz tidak surut, dan masing-masing pihak menafsirkan isi kesepakatan secara berbeda. Dengan kata lain, ini bukan perdamaian, melainkan penundaan eskalasi.

Dalam konteks ini, analisis The Economist (edisi 11–17 April 2026) menjadi sangat relevan. Majalah tersebut menyebut konflik ini sebagai foolish war—sebuah perang yang secara taktis menunjukkan kekuatan, tetapi gagal secara strategis. Iran memang mengalami kerusakan signifikan, tetapi rezim tetap bertahan dan kapasitas intinya belum hilang. Dengan kata lain, tujuan utama perang belum tercapai.

Situasi ini juga tercermin dalam analisis pada rubrik briefing majalah yg sama yang menilai bahwa tidak ada pemenang yang jelas dalam konflik ini. Amerika dan Israel menunjukkan superioritas militer, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi hasil politik yang definitif. Iran, meskipun melemah, tetap memiliki kemampuan untuk bertahan dan bahkan menciptakan tekanan baru, terutama melalui ancaman terhadap Selat Hormuz.

Justru di sinilah paradoks strategis muncul. Alih-alih melemahkan Iran secara menentukan, perang ini memberi Teheran leverage baru terhadap sistem energi global. Kemampuan untuk mengganggu jalur vital seperti Selat Hormuz membuat Iran tetap relevan dalam kalkulasi global, bahkan dalam kondisi tertekan. Dampaknya sudah terasa dalam volatilitas harga energi dan ketidakpastian pasar global.

Di sisi lain, negara-negara Teluk mulai mempertanyakan keandalan Amerika sebagai penjamin keamanan. Jika perang ini dimaksudkan untuk memperkuat deterrence, maka hasilnya justru ambigu. Kepercayaan tidak sepenuhnya pulih, dan ruang bagi pendekatan alternatif semakin terbuka—baik dalam bentuk kemandirian maupun akomodasi, atau kombinasi keduanya.

Yang dimaksud dengan kemandirian adalah upaya negara-negara Teluk memperkuat pertahanan mereka sendiri, sementara akomodasi merujuk pada pendekatan yang lebih pragmatis untuk meredakan ketegangan dengan Iran. Pilihan-pilihan ini menunjukkan bahwa efek strategis perang justru berpotensi berbalik arah.

Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah erosi legitimasi. Retorika keras dan penggunaan kekuatan secara dominan telah menggerus moral authority Amerika. Padahal, seperti diingatkan The Economist, kekuatan Amerika selama ini bertumpu pada kombinasi antara kapasitas militer dan legitimasi global. Ketika salah satunya melemah, efektivitas keseluruhan ikut terpengaruh.

Perang ini juga memperlihatkan batas dari pendekatan “might is right.” Kekuatan militer mampu menciptakan tekanan, tetapi tidak otomatis menghasilkan solusi politik. Bahkan, dalam kasus Iran, tekanan tersebut justru berpotensi memperkuat insentif untuk mempertahankan—atau bahkan mempercepat—opsi nuklir sebagai alat deterrence (Waltz, 1981; Jervis, 1978).

Dalam kondisi di mana perundingan masih berlangsung namun penuh ketidakpastian, sejumlah kemungkinan ke depan tetap terbuka, meskipun semuanya bersifat tentatif. Pertama, perundingan dapat terus berlanjut tanpa terobosan cepat. Dalam banyak kasus, negosiasi di tengah konflik membutuhkan waktu panjang karena masing-masing pihak berusaha memperbaiki posisi tawar sebelum membuat konsesi (Zartman, 2001).

Kedua, terdapat kemungkinan terjadinya coercive bargaining, di mana tekanan militer terbatas digunakan untuk mempengaruhi jalannya negosiasi. Dalam skenario ini, eskalasi kecil bisa terjadi bukan untuk memenangkan perang, tetapi untuk memperkuat posisi di meja perundingan (Schelling, 1966; Fearon, 1995).

Ketiga, konflik dapat berkembang menjadi bentuk konfrontasi berkepanjangan dengan intensitas rendah. Pola ini menggabungkan negosiasi yang berjalan dengan tekanan militer dan ekonomi secara paralel, sebagaimana sering terjadi dalam konflik modern yang tidak menghasilkan kemenangan menentukan (Freedman, 2013; Kaldor, 2012).

Keempat, selalu ada kemungkinan kegagalan diplomasi yang berujung pada eskalasi kembali. Namun, dalam konteks saat ini, semua pihak tampaknya menyadari bahwa eskalasi penuh akan membawa biaya yang jauh lebih besar, baik secara ekonomi maupun politik.

Dengan demikian, arah konflik saat ini bukan lagi ditentukan semata oleh kekuatan militer, tetapi oleh kemampuan para pihak untuk mengelola kebuntuan strategis. Perang telah menunjukkan batasnya; diplomasi sedang diuji.

Pada akhirnya, konflik Iran ini menegaskan satu pelajaran klasik dalam hubungan internasional: kekuatan tanpa strategi tidak cukup. Kemenangan di medan tempur tidak otomatis menghasilkan kemenangan dalam perang. Dan ketika strategi tidak jelas, bahkan kekuatan terbesar sekalipun hanya menghasilkan ketidakpastian yang berkepanjangan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |