Bantuan ke sejumlah pos lapangan di desa terdampak harus dikirim langsung menggunakan helikopter.(Dok. SAR Maumere)
TANTANGAN geografis dan terbatasnya moda transportasi menjadi kendala utama dalam distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini menyebabkan penyaluran logistik tidak dapat dilakukan sepenuhnya melalui jalur darat maupun laut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa bantuan ke sejumlah pos lapangan di desa-desa terdampak harus dikirimkan langsung menggunakan helikopter untuk menembus akses yang sulit.
“Pendistribusian langsung ke pos lapangan di desa dilakukan langsung oleh BNPB melalui helikopter,” ujar Berton pada Sabtu (22/8).
Berton menjelaskan bahwa secara umum, distribusi bantuan dilakukan secara berjenjang. Logistik dikirim dari Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma menuju bandara transit, yakni Bandara Labuan Bajo dan Bandara Maumere.
Dari kedua bandara tersebut, bantuan diteruskan ke posko kabupaten, kemudian ke tingkat kecamatan, hingga akhirnya sampai di pos lapangan desa terdampak. Namun, untuk wilayah dengan aksesibilitas rendah, pola ini dipangkas demi kecepatan penanganan.
“Jadi, biasanya kalau kami menyampaikan bantuan ke Pulau Palue, kami secara langsung ke pos lapangan, bukan ke pos di kabupaten,” jelas Berton. Langkah ini diambil guna memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi di tengah keterbatasan transportasi.
Klarifikasi Distribusi di Manggarai Timur
Terkait tantangan di lapangan, Berton menyoroti kondisi geografis di Kabupaten Manggarai Timur yang cukup berat. Ia juga memberikan klarifikasi mengenai pemberitaan tentang ketidaksesuaian jumlah bantuan saat proses serah terima di Kecamatan Lamba Leda Utara.
Ia menegaskan bahwa personel BNPB di lokasi tersebut bertugas untuk pendampingan dan pemantauan, sementara tanggung jawab pengiriman barang berada di bawah kendali Posko Kabupaten Manggarai Timur. Berton menyebut bantuan yang terlihat di lokasi saat itu memang baru sebagian karena pengiriman dilakukan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan moda angkut.
Dukungan Medis: KRI Dr. Soeharso dan RS Terapung
Selain logistik, penanganan medis bagi korban gempa terus diperkuat. KRI Dr. Soeharso-990 milik TNI Angkatan Laut telah bersandar di Pelabuhan Reo sejak Jumat (21/8). Kapal rumah sakit ini memiliki kapasitas rawat inap hingga 75 pasien dan dilengkapi fasilitas ruang operasi.
Kehadiran kapal ini mendukung dua rumah sakit lapangan yang telah beroperasi di Lapangan Waso dan Lapangan Wangkong, Reo, Kabupaten Manggarai. Selain itu, Rumah Sakit Terapung Kapal Kesatria Airlangga juga telah bersandar di Teluk Nanga Lirang, Manggarai Timur, pada Sabtu (22/8) untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan.
Prioritas Penanganan: BNPB menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar warga adalah prioritas utama. Pemerintah mengapresiasi kolaborasi antara akademisi, tenaga medis, relawan, dan TNI/Polri dalam percepatan penanganan pascabencana di NTT.
Berton mengimbau seluruh pihak yang terlibat untuk terus menjaga koordinasi serta memperhatikan faktor keselamatan selama bertugas di lapangan. “Kami mengimbau agar seluruh pihak terkait tetap menjaga koordinasi dengan baik untuk kepentingan warga terdampak,” pungkasnya. (PO/I-1)


















































