Dokter Ortopedi Dikerahkan Tangani Korban Gempa NTT

4 weeks ago 16
Dokter Ortopedi Dikerahkan Tangani Korban Gempa NTT PABOI mengerahkan tim medis untuk menangani korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).(MI/Ardi Teristi)

PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) mengerahkan tim medis untuk menangani korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tingginya kasus patah tulang atau fraktur akibat gempa.

President Indonesia Hip and Knee Society (IHKS) Rizki Rahmadian mengatakan koordinasi penanganan dilakukan beberapa jam setelah informasi gempa diterima. PABOI bersama organisasi di bawahnya, termasuk IHKS, Indonesian Orthopaedic Trauma and Reconstruction Society (IOTRS), dan Indonesia Arthroplasty Society (INAMSOS), segera menyiapkan tim medis.

“Beberapa jam setelah kejadian itu kami segera Zoom meeting di PABOI dan seluruh anak organisasi serta cabang di seluruh Indonesia, mengambil kesimpulan bahwa kita harus sesegera mungkin berangkat ke sana,” kata Rizki kepada awak media di Hotel Marriott, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (21/8).

Menurut Rizki, respons cepat diperlukan karena jumlah dokter spesialis ortopedi di wilayah terdampak terbatas. Saat itu, Ende lebih banyak ditunjang dokter bedah umum, sedangkan dokter spesialis ortopedi terdekat berada di Labuan Bajo dan Nusa Tenggara Barat.

PABOI memperkirakan korban dengan cedera patah tulang akan meningkat setelah gempa. Pengalaman penanganan bencana sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan dalam pengerahan tim medis. “Terbayang adalah kasus fraktur akan sangat banyak sekali. Kalau gempa, kemungkinan besar kasus fraktur sangat banyak,” ujarnya.

Tim medis pertama dari Makassar diberangkatkan pada pagi hari setelah gempa. Tim dari Surabaya kemudian menyusul untuk memperkuat penanganan korban di lokasi bencana.

PABOI juga menyiapkan pelayanan berkelanjutan dengan mengerahkan cabang dan pusat pendidikan ortopedi di berbagai daerah secara bergiliran. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan korban terus berlangsung selama masa pemulihan.

Selain penanganan korban bencana, isu kesehatan tulang dan sendi menjadi pembahasan dalam forum ilmiah internasional IHKS 2026 di Yogyakarta. Forum tersebut diikuti ratusan pakar dari 15 negara.

Rizki mengatakan perkembangan teknologi ortopedi saat ini diarahkan pada upaya mempertahankan sendi alami pasien selama masih memungkinkan. Penanganan dapat dilakukan melalui perawatan jaringan tulang rawan hingga operasi invasif minimal atau arthroscopy.

Jika sendi tidak lagi dapat dipertahankan, penggantian sendi dapat dilakukan dengan dukungan teknologi seperti kecerdasan buatan dan robotic-assisted surgery.

KETERGANTUNGAN IMPLAN IMPOR
Dalam forum tersebut, dokter juga membahas ketergantungan Indonesia terhadap produk alat kesehatan impor, terutama implan ortopedi. President Indonesian Orthopaedic Trauma Society (IOTRS) Norman Zainal mengatakan ketergantungan terhadap implan impor masih sangat tinggi. Berdasarkan data yang dipaparkannya, proporsi impor implan medis turun dari 96% pada 2013 menjadi 94% pada 2017 melalui Program Rekayasa Implan Nasional (Prorigna).

Menurut Norman, pengembangan implan dalam negeri menghadapi tantangan berupa kompleksitas produksi yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin serta dukungan pendanaan.

Pengembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan ilmu rekayasa kedokteran, dinilai perlu diperkuat untuk mendorong produksi implan dalam negeri.

Penyesuaian kurikulum pendidikan kedokteran juga diperlukan agar dokter dan tenaga ahli di bidang ortopedi memiliki kemampuan memahami pengembangan implan.

“Waktu kami kuliah di kedokteran, kami belajar farmasi untuk membuat obat. Tapi selama sekolah, kita tidak mempelajari bagaimana membuat implan yang ditanam di badan ini,” kata Norman. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |