Dokumenter "Stan Lee: The Final Years" Ungkap Sisi Kelam Akhir Hayat Sang Legenda

1 hour ago 6
Dokumenter Film dokumenter Stan Lee: The Final Years mengungkap fakta di balik kepopuleran dan dugaan eksploitasi sang legenda Marvel di akhir usianya. Simak selengkapnya!(IMDB)

PENGGEMAR komik sekaligus pembuat film Jon Bolerjack mulai mendokumentasikan keseharian Stan Lee sekitar tahun 2014. Awalnya, ia hanya ingin merekam bagaimana pencipta legendaris di balik superhero populer dunia tersebut menghabiskan masa usianya yang menginjak 90-an.

Namun, di balik ketenaran Lee dan antusiasme fans, Bolerjack justru mengabadikan dugaan eksploitasi memprihatinkan yang ia peringatkan bisa terjadi pada siapa saja. Dokumenter berjudul "Stan Lee: The Final Years" resmi dirilis di platform streaming pada Selasa, meski sempat mendapat penolakan dari sejumlah pihak industri.

Film ini memuat tuduhan eksploitasi oleh dua mantan manajer Lee. Salah satu manajer bahkan dijerat pasal penipuan, pencurian, dan perampasan kemerdekaan secara ilegal pada 2019, setahun setelah Lee meninggal dunia pada usia 95 tahun.

Bolerjack mengaku menghadapi tekanan untuk tidak merilis film tersebut, termasuk dari salah satu mantan manajer Lee dan beberapa perusahaan yang tidak ia sebutkan namanya.

"Ada perusahaan-perusahaan yang melakukan hal-hal yang merasa bersalah," ujarnya. "Tapi sisi lainnya adalah, jika Anda menginginkan wajah Stan di kotak makan siang, apakah Anda ingin orang-orang memikirkan hal-hal yang membahagiakan tentang Stan, atau Anda ingin mereka tahu bahwa kenyataannya tidak semembahagiakan itu?"

Keputusan Bisnis yang Buruk

Lahir pada 1922 di New York, Stanley Martin Lieber mulai bekerja di Timely Comics (cikal bakal Marvel) saat remaja. Menggunakan nama pena Stan Lee, ia ikut menciptakan karakter ikonik seperti Spider-Man hingga Black Panther.

Kendati dikenal ramah, dokumenter ini menggambarkan Lee sebagai sosok yang buruk dalam urusan bisnis.

"Tidak ada orang yang membuat keputusan bisnis buruk lebih banyak daripada saya," aku Lee dalam salah satu adegan.

Saat Disney berniat menguasai Marvel, Lee sempat ditawari persentase keuntungan masa depan. Namun atas saran pengacaranya, ia justru menerima pembayaran tunggal sebesar 6 juta dolar AS, yang mana separuhnya diambil oleh sang pengacara. Padahal, film-film Marvel kemudian menjadi salah satu waralaba terlaris sepanjang masa.

Bolerjack menyebut Lee mengetahui keputusan buruk itu, tetapi tidak menyalahkan Disney maupun menaruh dendam pada Marvel. "Dia suka menjadi maskot. Dia suka menjadi cameo," kata Bolerjack.

Sosok Penolong

Di hari-hari terakhirnya, Lee sempat dikunjungi oleh Bos Marvel Studios, Kevin Feige.

"Kevin sangat ramah dan sangat baik serta meluangkan waktu. Dan Stan, saya tahu sangat menghargainya, membuatnya merasa spesial karena dia bersusah payah datang jauh-jauh seperti itu," tutur Bolerjack.

Bolerjack menegaskan bahwa dokumenter ini bukan sekadar cerita tentang tokoh terkenal yang ditipu, melainkan pelajaran bagi semua orang.

"Ceritanya adalah bahwa apa pun bisa terjadi pada Anda. Apa pun bisa terjadi pada orang tua Anda. Anda harus memberi perhatian," tegasnya. (AFP/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |