Donald Trump Klaim Ekonomi Iran Hancur dan Inflasi Tembus 350 Persen

1 month ago 24
Donald Trump Klaim Ekonomi Iran Hancur dan Inflasi Tembus 350 Persen Presiden AS Donald Trump.(Anadolu Agency/Dilara İrem Sancar )

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran saat ini belum berada dalam posisi yang siap untuk mencapai "kesepakatan tepat" dengan Washington. Pernyataan ini muncul di tengah langkah-langkah ekonomi yang semakin ketat yang diberlakukan AS terhadap Teheran.

Berbicara sebelum keberangkatannya ke Carolina Selatan untuk menghadiri kampanye pada Kamis (20/8), Trump mengungkapkan bahwa meskipun Iran memiliki keinginan untuk bernegosiasi, syarat-syarat yang ada belum terpenuhi. "Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut pendapat saya mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat," ujar Trump.

Klaim Kehancuran Ekonomi dan Militer

Trump menolak anggapan bahwa fokus pada tekanan ekonomi akan membatasi opsi militer AS. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa AS sedang memantau dampak dari konflik yang telah berlangsung selama hampir enam bulan terhadap stabilitas internal Iran. Trump memberikan gambaran suram mengenai kondisi domestik Iran saat ini.

Menurut klaim Trump, tekanan ekonomi telah melumpuhkan berbagai sektor fundamental di Iran, mulai dari keuangan hingga kekuatan militer. Ia menyebutkan angka inflasi yang sangat tinggi sebagai indikator kegagalan ekonomi negara tersebut.

Indikator Klaim Kondisi (Versi Trump)
Tingkat Inflasi Mencapai 350 Persen
Kapasitas Militer Tidak memiliki angkatan laut dan angkatan udara yang memadai
Kesejahteraan Aparat Tidak mampu membayar tentara dan polisi
Likuiditas Negara Tidak memiliki uang (krisis arus kas)

Situasi Kritis di Selat Hormuz

Selain tekanan ekonomi, Trump menegaskan bahwa militer AS mempertahankan "kendali penuh" atas wilayah strategis di sekitar Selat Hormuz, termasuk jalur perairan vital dan wilayah darat di selatan Iran. Namun, kendali ini tidak serta-merta memulihkan stabilitas navigasi komersial.

Data dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) yang dirilis pada Jumat (21/8) menunjukkan dampak nyata dari konflik ini terhadap perdagangan global. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dilaporkan merosot tajam hingga 90 persen dibandingkan level sebelum perang. Penurunan ini dipicu oleh risiko keamanan yang tinggi dan rentetan serangan terhadap kapal komersial di perairan regional.

Upaya diplomasi sebelumnya, termasuk nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu untuk menghentikan permusuhan, hingga kini gagal diimplementasikan. Sengketa kronis mengenai ketentuan pelaksanaan dan masa depan hak navigasi menjadi penghambat utama pemulihan jalur perairan tersebut.

Konflik terbuka ini sendiri berakar pada serangan mendadak AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian memicu aksi balasan Iran terhadap sasaran di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. (Anadolu/Ant/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |