Edukasi Gizi dan Susu Anak Harus Berkelanjutan, Cegah Balita Minum Kental Manis

3 days ago 3
Edukasi Gizi dan Susu Anak Harus Berkelanjutan, Cegah Balita Minum Kental Manis Tim dari Muslimat NU melakukan kunjungan ke rumah warga untuk melakukan edukasi terkait gizi dan susu anak.(ISTIMEWA)

EDUKASI gizi dan susu untuk anak harus dilakukan secara berkelanjutan agar balita tidak lagi mengonsumsi susu kental manis sebagai minuman atau pengganti susu pertumbuhan.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara saat melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Dalam kesempatan itu, Erna menegaskan komitmen Muslimat NU memperkuat edukasi gizi melalui kader-kadernya yang tersebar hingga tingkat ranting.

“Dengan jaringan organisasi hingga tingkat ranting di seluruh Indonesia, Muslimat NU berharap kader-kadernya dapat menjadi ujung tombak edukasi gizi di lingkungan keluarga dan masyarakat ,” papar Erna.

Kekhawatiran akan praktik salah susu untuk anak ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, susu kental manis hingga kini masih dikenal sebagai sebagai susu untuk anak.

Persepsi yang keliru tersebut berpotensi mendorong orangtua memberikan kental manis sebagai minuman atau pengganti susu pertumbuhan. Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan bahwa susu kental manis tidak diperuntukkan bagi kebutuhan gizi dan pertumbuhan anak.


DIKIRA SUMBER NUTRISI


Fakta di lapangan, diungkapkan Ani Maryani, warga Desa Pangauban, Kabupaten Bandung Barat, yang mengaku pernah memberikan susu kental manis kepada anaknya karena mengira produk tersebut dapat menjadi sumber nutrisi. Dari dulu keluarganya mengira kental manis adalah susu untuk pelengkap gizi anak.

Namun, dia tidak menyadari bahwa perubahan perilaku anaknya merupakan indikator adanya kebiasaan yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah kesulitan makan.

Ani mengungkapkan bahwa anaknya kerap menolak makanan utama dan lebih memilih makanan dengan cita rasa gurih atau manis. Selain itu, dari sisi pertumbuhan, perkembangan fisik sang anak juga tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan usianya.

"Telur rebus enggak mau, maunya telur ceplok pakai kecap," ungkapnya.

Pengakuan Ani menunjukkan persoalan yang ternyata masih banyak terjadi di masyarakat. Di balik kemasan yang identik dengan susu, masih banyak orangtua yang belum memahami bahwa susu kental manis (SKM) bukan diperuntukkan sebagai susu pertumbuhan anak.

Sementara itu, hasil survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) baru-baru ini menunjukkan pemberian kental manis sebagai susu untuk anak masih tinggi. Dalam survei Unisba ditemukan 67,6% masyarakat masih mengonsumsi susu kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan anak.

Lebih spesifik, di Jawa Barat, sebanyak 25,8% persen responden mengaku memberikan kental manis sebagai pengganti susu, sedangkan 57,90% menyatakan anak mereka masih mengonsumsi kental manis hingga saat ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kental manis pada anak masih menjadi praktik yang cukup umum di masyarakat.


PERAN GENERASI MUDA


Upaya meningkatkan literasi gizi tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan saja. Generasi muda juga memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menyebarkan informasi berbasis fakta kepada keluarga dan masyarakat melalui berbagai ruang, mulai dari lingkungan sekitar hingga media sosial.

Salah satu wadah yang dapat dimanfaatkan adalah program Kuliah Kerja Nyata (KKN), saat mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi dan pemberdayaan. Dengan kedekatan mereka terhadap teknologi sekaligus pengalaman berbaur di tengah masyarakat, mahasiswa dapat menjadi ujung tombak dalam meluruskan berbagai miskonsepsi, termasuk anggapan bahwa susu kental manis merupakan minuman yang tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Ketua KKN IKIP Siliwangi di Desa Pangauban, Ahmad Nur Rasyidin, juga menilai informasi mengenai susu kental manis masih perlu diperluas.

Menurutnya, meski dirinya mengetahui bahwa susu kental manis bukan produk yang tepat untuk balita, informasi tersebut belum tentu dipahami oleh seluruh masyarakat.

Rendahnya literasi gizi itu juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Lovely Daisy, MKM, mengatakan masih banyak masyarakat yang memahami susu kental manis sebagai minuman sehat bagi anak. Kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya literasi gizi masyarakat, terutama terkait pemenuhan kebutuhan gizi anak setelah masa ASI.

"Hasil ini tentu menjadi keprihatinan kita bahwa masih minimnya pengetahuan gizi, terutama terkait makanan pendamping ASI. Mereka memahami bahwa kental manis itu minuman yang sehat untuk anak mereka. Padahal kandungan susu pada kental manis sangat sedikit, bahkan sangat tinggi kandungan gulanya," tandas Lovely.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |