Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Permintaan Domestik Jadi Penopang

1 month ago 11
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Permintaan Domestik Jadi Penopang Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam.(Dok.Istimewa)

PEREKONOMIAN Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan. Pada kuartal II 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY), tetap berada di atas level 5% meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026. Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika perekonomian global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas pasar keuangan dan nilai tukar. 

Dalam Pidato Kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional. Sepanjang semester I 2026, realisasi investasi disebut mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam menyatakan kinerja ekonomi kuartal II, perlu dilihat dengan membedakan dinamika pasar keuangan dan aktivitas ekonomi riil. Perubahan sentimen di pasar keuangan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perubahan pada konsumsi, kredit, investasi, produksi, dan tenaga kerja. Tekanan di pasar keuangan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pelemahan aktivitas ekonomi riil.

"Tekanan pasar keuangan,  pada tahap awal lebih banyak memengaruhi harga aset, alokasi portofolio, arus investasi portofolio asing, risk premium, serta persepsi terhadap daya tarik investasi Indonesia. Dampak terhadap sektor riil baru akan semakin terasa apabila tekanan tersebut berlanjut menjadi kenaikan biaya modal, perlambatan investasi, penurunan ekspansi perusahaan, hingga berkurangnya penciptaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat," paparnya, Sabtu (22/8).

Dinamika tersebut kata Dzikri,.salah satunya terlihat dari isu investability Indonesia. Pada Juni 2026, MSCI menyoroti persoalan transparansi pemegang saham dan coordinated trading di pasar saham Indonesia serta membuka kemungkinan konsultasi mengenai perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market apabila perbaikan yang diperlukan belum terlihat pada November 2026. Di sisi lain, arus modal asing menunjukkan perkembangan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan tekanan di pasar saham. 

*Bank Indonesia mencatat investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 mengalami net inflow sebesar US$8,5 miliar, terutama menuju Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Perkembangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai perubahan preferensi dan alokasi portofolio, bukan semata-mata keluarnya modal asing secara menyeluruh,” jelasnya.

PERMINTAAN DOMESTIK
Dzikri menilai permintaan domestik masih menjadi salah satu bantalan utama perekonomian Indonesia. Konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 tumbuh 5,06% YoY, meski melambat dari 5,52% pada kuartal sebelumnya. Dengan porsinya yang besar dalam struktur ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga tetap memberikan kontribusi penting terhadap pertumbuhan. 

Kemampuan rumah tangga mempertahankan konsumsi juga ditopang kondisi inflasi yang relatif terkendali. Inflasi pada Juni 2026 tercatat 3,34% YoY dan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus-minus 1%.

“Tekanan terhadap daya beli belum berkembang menjadi gejolak inflasi yang cukup besar untuk menekan konsumsi secara luas. Selain konsumsi, aktivitas ekonomi juga didukung penyaluran kredit perbankan. Pada Juni 2026, kredit perbankan tumbuh 12,67% YoY. Kredit investasi tumbuh 24,90%, kredit modal kerja 8,94%, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,75%. Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang penyaluran kredit baru meningkat menjadi 93,08% pada kuartal II 2026, dari 38,74% pada kuartal I," bebernya.

Menurut Dzikri, kondisi tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan. Selama fungsi intermediasi perbankan berjalan, volatilitas pasar modal tidak serta-merta menghentikan produksi, investasi, dan konsumsi. Belanja pemerintah juga menjadi faktor yang menjaga momentum pertumbuhan. 

Konsumsi pemerintah pada kuartal II 2026 tumbuh sekitar 15,97% YoY, meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 21,81% pada kuartal I. Pertumbuhan konsumsi pemerintah didukung realisasi sejumlah program prioritas, percepatan belanja, pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, serta bantuan sosial. Konsumsi masyarakat juga mendapat dukungan melalui bantuan pangan dan stimulus transportasi.

"Belanja pemerintah memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan sekaligus berpotensi menciptakan pendapatan bagi rumah tangga dan perusahaan. Pendapatan tersebut kemudian dapat kembali mendorong konsumsi dan aktivitas produksi. Dengan demikian, pertumbuhan kuartal II 2026 terutama ditopang permintaan domestik dengan dukungan kebijakan fiskal," terangnya.

PERKUAT KEPERCAYAAN SWASTA
Dari sisi investasi lanjut Dzikri, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87% pada kuartal II 2026 dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Namun, ia mengingatkan pertumbuhan investasi tidak otomatis mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor swasta. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, pertumbuhan investasi terutama didukung investasi bangunan yang berkaitan dengan Program Kerja Prioritas Nasional. Sementara itu, investasi swasta masih perlu diperkuat.

"Karakter investasi yang memiliki siklus pelaksanaan relatif panjang juga membuat proyek yang sudah memasuki tahap konstruksi atau pengadaan tidak serta-merta dihentikan hanya karena perubahan sentimen pasar dalam waktu singkat. Karena itu, ketahanan investasi tidak selalu berarti ketahanan kepercayaan investor swasta,” ujarnya.

Dzikri menyebut, dinamika sektor eksternal juga perlu diperhatikan. Pada Mei 2026, ekspor Indonesia tercatat US$23,20 miliar, sedangkan impor mencapai US$24,81 miliar sehingga terjadi defisit sekitar US$1,61 miliar. Meski demikian, secara kumulatif Januari-Mei 2026, neraca perdagangan masih mencatat surplus US$4,03 miliar.

Pada periode tersebut, impor tumbuh 15,24%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor yang mencapai 3,02%. Namun peningkatan impor tidak selalu mencerminkan pelemahan ekonomi. Impor dapat menunjukkan meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang antara, energi, mesin, dan barang modal untuk menopang produksi serta investasi domestik.

“Sektor eksternal memang belum menjadi sumber utama ketahanan pertumbuhan pada kuartal II, tetapi tekanannya juga belum cukup besar untuk mengimbangi kekuatan permintaan domestik,” ujarnya.

MASIH ADA BANTALAN
Secara keseluruhan, Dzikri menilai pertumbuhan 5,29% menunjukkan perekonomian Indonesia memiliki sejumlah bantalan untuk menghadapi tekanan eksternal. 

Permintaan domestik masih bertahan, kredit perbankan tetap ekspansif, kebijakan fiskal memberikan dukungan, sejumlah proyek investasi terus berjalan, dan cadangan devisa berada pada posisi relatif kuat. Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar US$145,6 miliar atau setara dengan sekitar 5,5 bulan impor.

Kondisi tersebut menunjukkan perekonomian Indonesia dalam jangka pendek masih memiliki kemampuan menyerap tekanan dari pasar keuangan maupun lingkungan ekonomi global.

Namun, ketahanan tersebut perlu diikuti dengan upaya menjaga kepercayaan, memperkuat iklim investasi, dan memastikan tekanan pasar keuangan tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap sektor riil.

“Pertumbuhan 5,29% merupakan bukti bahwa ekonomi Indonesia memiliki kapasitas menyerap tekanan dalam jangka pendek. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kapasitas tersebut agar dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutupnya. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |