Ilustrasi(Dok Istimewa)
DEKAN sekaligus CEO Asian Development Bank Institute (ADBI), Bambang Brodjonegoro, membeberkan sejumlah tantangan dan pekerjaan rumah (PR) besar yang harus dihadapi oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) berikutnya. Mantan Menteri Keuangan tersebut menyoroti terbatasnya ruang gerak bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah lantaran jumlah cadangan devisa Indonesia yang relatif terbatas.
"Gubernur Bank Indonesia dalam hal ini, yang cadangan devisanya tidak besar-besar benar karena sekarang mungkin setara lima setengah bulan kebutuhan impor, maka memang tidak banyak opsi yang bisa dilakukan," kata Bambang dikutip dari kanal YouTube Hendri Satrio Official, Jumat (14/8/2026).
Meski demikian, ia menekankan bahwa BI tetap perlu berupaya memperkuat nilai tukar rupiah secara berkesinambungan. Langkah ini dilakukan melalui pengawalan angka inflasi harian, intervensi pasar keuangan, hingga pengoptimalan instrumen suku bunga.
Mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas itu menilai, tugas bank sentral kini tidak lagi sebatas mengawal stabilitas moneter, melainkan juga dituntut berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Indonesia itu bisa lebih baik dari yang sekarang. Kondisi rupiahnya harusnya bisa lebih menguat, selalu memperhatikan inflasi setiap bulan, jaga stabilitas melalui intervensi, melalui kenaikan tingkat bunga, dan seterusnya. Nah, sekali ditambah dengan ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Bambang.
Terkait dengan transisi pimpinan di tubuh bank sentral, Bambang menegaskan bahwa pengunduran diri atau pergantian seorang Gubernur BI tidak akan melumpuhkan operasional lembaga. Sebab, proses pengambilan keputusan strategis di BI menganut prinsip kolektif kolegial yang berada di tangan Dewan Gubernur (Board of Governors).
"Jadi ketika ada pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia, bukan berarti BI-nya lumpuh, karena mekanisme Dewan Gubernur tetap jalan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) tetap berlangsung pada periode yang sama. Tidak ada yang berhenti atau lumpuh," tegasnya.
Menurut Bambang, fokus utama pasar saat ini bukan sekadar sosok figur pemimpin, melainkan konsistensi arah kebijakan moneter yang dihasilkan. Selama instrumen dan kebijakan yang diambil tetap konsisten serta dapat diterima oleh pasar, potensi gejolak finansial akibat pergantian pimpinan akan bersifat sementara. (H-2)















































