Petenis Kazakhstan Elena Rybakina usai menjadi juara AS Terbuka(AFP/TIMOTHY A. CLARY)
ELENA Rybakina membuktikan kapasitasnya sebagai petenis putri terbaik dunia saat ini. Petenis asal Kazakhstan tersebut sukses meraih gelar Amerika Serikat (AS) Terbuka pertamanya setelah menumbangkan juara bertahan dua kali, Aryna Sabalenka, dalam laga final yang berlangsung di Stadion Arthur Ashe, Minggu (13/9) WIB.
Kemenangan ini terasa spesial karena Rybakina sudah dipastikan akan naik ke peringkat satu dunia menggantikan Sabalenka, terlepas dari hasil final tersebut.
Rybakina menutup pertandingan dengan skor 6-4, 5-7, dan 6-2, sekaligus mengamankan gelar Grand Slam ketiga sepanjang kariernya setelah Wimbledon 2022 dan Australia Terbuka 2026.
Ketenangan Melawan Ledakan Emosi
Pertandingan ini menjadi panggung kontrasnya kepribadian kedua pemain. Rybakina tampil dengan ketenangan luar biasa (ice-cool composure), sementara Sabalenka terlihat kesulitan mengendalikan emosinya di lapangan.
Meski servis pertama Rybakina sempat tidak maksimal di set pembuka, ia mampu menekan Sabalenka melalui pengembalian bola (return) yang mematikan.
Sabalenka sempat bangkit di set kedua dengan memanfaatkan penurunan level permainan Rybakina. Petenis Belarusia itu memaksa terjadinya set penentu setelah mematahkan servis kedua Rybakina di gim ke-12. Namun, performa Sabalenka kembali merosot di set ketiga akibat banyaknya kesalahan sendiri (unforced errors) dan sikap negatif di lapangan.
| Skor Akhir | 6-4, 5-7, dan 6-2 |
| Pemenang | Elena Rybakina (Kazakhstan) |
| Lawan | Aryna Sabalenka (Belarus) |
| Lokasi | Stadion Arthur Ashe, New York |
| Status Ranking | Rybakina menjadi Nomor 1 Dunia yang baru |
Perjalanan Ajaib Menuju Juara
Kemenangan Rybakina di New York tergolong mengejutkan mengingat rekam jejaknya yang belum pernah melewati babak 16 besar di AS Terbuka sebelumnya. Terlebih lagi, partisipasinya sempat diragukan akibat cedera pergelangan kaki yang dialaminya di Cincinnati Terbuka, yang membuatnya sempat tidak bisa berjalan selama beberapa hari.
"Beberapa keajaiban sedang terjadi. Saya tidak beruntung dengan cedera dan hanya menjalaninya hari demi hari. Kami tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, jadi saya sangat senang dan masih tidak percaya," ujar Rybakina kepada Sky Sports.
Dalam perjalanannya menuju final, Rybakina menunjukkan ketangguhan fisik dengan mengalahkan Zheng Qinwen dan favorit tuan rumah Coco Gauff melalui pertarungan tiga set setelah sempat tertinggal di set pertama.
Kekecewaan Sabalenka
Bagi Sabalenka, kekalahan ini menambah catatan buruknya di partai final turnamen besar. Ini merupakan kekalahan kelimanya dari sembilan final Grand Slam yang telah ia jalani.
Meski menunjukkan resiliensi untuk naik ke puncak tenis dunia, tekanan di lapangan seringkali menjadi batu sandungan bagi juara Grand Slam empat kali tersebut.
"Hal terakhir yang ingin saya lakukan saat ini adalah memberikan pidato, tetapi saya akan mencoba yang terbaik. Saya berharap bisa tampil sedikit lebih baik, tapi mungkin tahun depan," kata Sabalenka di hadapan 24.000 penonton yang memadati stadion.
Dengan gelar AS Terbuka ini, Elena Rybakina kini hanya membutuhkan gelar Prancis Terbuka untuk melengkapi koleksi Career Grand Slam miliknya. (bbc/Z-1)


















































