Erupsi Gunung Anak Krakatau(Dok. Kementerian ESDM)
GUNUNG Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan erupsi pada Selasa (8/9/2026) pagi, meski sebelumnya sempat mengalami tren penurunan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat penurunan ini terjadi setelah gunung tersebut meletus secara terus-menerus selama kurang lebih 25 jam.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). Pakar Kebumian sekaligus Dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, mengingatkan bahwa penurunan aktivitas bukan berarti risiko hilang sepenuhnya. Menurutnya, potensi letusan susulan, aliran lava, hingga hujan abu vulkanik masih tetap ada.
“Aktivitas saat ini termasuk erupsi Strombolian dengan ledakan relatif ringan dan pelepasan gas berkala. Namun, partikel abu vulkanik yang sangat halus dapat menyebar jauh dari pusat aktivitas,” ujar Iktri dilansir dari situs resminya, Sabtu (9/9).
Iktri menjelaskan, abu vulkanik terpantau bergerak dengan kecepatan 10-20 knot (18-37 km/jam) ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran ini menjangkau wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, yang diperparah oleh kondisi musim kemarau panjang sehingga abu bertahan lebih lama di atmosfer.
Selain ancaman udara, Iktri menyoroti risiko tsunami akibat aktivitas vulkanik di tengah laut, berkaca pada peristiwa Desember 2018. Ia menekankan pentingnya pemantauan indikator ketidakstabilan tubuh gunung melalui alat seperti tiltmeter, GPS, serta sensor tide gauge untuk mendeteksi perubahan muka air laut secara dini.
Masyarakat diimbau untuk hanya merujuk pada informasi resmi dari kanal PVMBG, BMKG, dan BNPB guna menghindari disinformasi. Kesiapsiagaan ini menjadi kunci utama dalam menghadapi karakteristik bencana penyerta yang dimiliki Gunung Anak Krakatau.
Rektor Universitas Pertamina, Ichsan Setya Putra, menambahkan bahwa pihak kampus terus berkomitmen membekali mahasiswa dengan kompetensi analisis gejala alam melalui mata kuliah Seismologi dan Geodinamika. Hal ini bertujuan agar lulusan UPER mampu mendukung literasi bencana dan menyampaikan kajian ilmiah yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. (Z-10)


















































