Festival Golo Koe, Kritik Ekologis Gereja Katolik terhadap Pariwisata Labuan Bajo

2 days ago 1
Festival Golo Koe, Kritik Ekologis Gereja Katolik terhadap Pariwisata Labuan Bajo Festival Golo Koe, Kritik Ekologis Gereja Katolik terhadap Pariwisata Labuan Bajo.(MI/Marianus Marselus)

GEREJA  Katolik melalui Keuskupan Labuan Bajo menegaskan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan melalui penyelenggaraan Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Asumpta Nusantara 2026. Di tengah pesatnya pembangunan pariwisata di Manggarai Barat, Gereja mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh mengorbankan ekosistem dan ruang hidup masyarakat lokal.

Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di Water Front City Labuan Bajo ini mengusung tema sentral “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan” dengan tagline yang kuat: “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.”

Humas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Erick Ratu, Pr., menjelaskan bahwa perhelatan tahun ini dirancang melampaui sekadar pesta budaya atau seremoni liturgis. Festival ini menjadi ruang refleksi dan aksi nyata atas tanggung jawab manusia terhadap alam semesta.

Pesan Utama: "Festival Golo Koe bukan sekadar pesta budaya dan iman, melainkan juga panggilan bersama untuk menjaga kelestarian ciptaan. Perjalanan iman tidak boleh berhenti pada doa, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata," ujar Romo Erick, Sabtu (8/8/2026).

Kritik Gereja terhadap Komodifikasi Alam

Keuskupan Labuan Bajo menyoroti dinamika pariwisata Labuan Bajo yang kini menjadi magnet dunia. Meski membuka peluang ekonomi yang luas, Gereja memberikan catatan kritis agar alam tidak sekadar dipandang sebagai barang dagangan.

Menurut Romo Erick, laut, pantai, dan pulau-pulau di Labuan Bajo memiliki nilai kehidupan yang lebih dalam dari sekadar objek wisata. "Pariwisata tidak boleh hanya melihat alam sebagai komoditas. Di balik itu ada ekosistem dan ciptaan Tuhan yang harus dihormati. Jika alam rusak, pariwisata akan kehilangan fondasinya," tegasnya.

Gereja mendorong sinergi antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan agar keduanya tidak saling dipertentangkan, melainkan berjalan beriringan demi keberlanjutan masa depan.

Aksi Nyata: Dari Ibadat Ekologi hingga Penanaman Mangrove

Pesan ekologis dalam Festival Golo Koe 2026 diterjemahkan ke dalam rangkaian aksi konkret yang melibatkan masyarakat luas:

  • Aksi Ekologis (11 Agustus): Digelar di Pantai Binongko, mencakup ibadat ekologi, pembersihan sampah, dan penanaman mangrove.
  • Pertobatan Ekologis: Gerakan membersihkan pantai dimaknai sebagai pengakuan atas andil manusia dalam kerusakan lingkungan.
  • Edukasi Lingkungan: Penyediaan stan khusus edukasi ekologis dan pameran lingkungan selama festival berlangsung.
  • Pembatasan Plastik: Komitmen panitia untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai di seluruh area festival.

Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Budaya

Selain isu lingkungan, festival ini menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal sebagai subjek pembangunan. Keuskupan Labuan Bajo memastikan bahwa pariwisata harus memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga martabat dan budaya lokal.

Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan 148 UMKM kuliner dan non-kuliner. Selain itu, aspek kebersihan lingkungan dilombakan antar-paroki, yakni Paroki Merombok, Paroki Wae Sambi, dan Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, guna menumbuhkan kebiasaan hidup bersih di tingkat akar rumput.

Sisi kebudayaan juga diperkuat melalui Pentas Caci Kolosal pada 13 Agustus yang melibatkan pelajar dari SMKS Stella Maris dan SMKN 3 Komodo, serta berbagai tarian kolosal dan karnaval budaya.

Spiritualitas Maria Asumpta Nusantara

Puncak spiritualitas festival terjadi pada 14 Agustus melalui Prosesi Akbar Maria Asumpta Nusantara. Patung Bunda Maria akan diarak melalui jalur laut dari Gereja Stella Maris menuju Dermaga Biru, hingga berakhir di Gua Maria Golo Koe.

Prosesi laut ini membawa pesan mendalam bahwa laut adalah ruang suci yang harus dirawat, bukan sekadar jalur transportasi. Rangkaian acara akan ditutup pada 15 Agustus dengan Ekaristi Agung di Water Front City, yang dilanjutkan dengan konser musik menghadirkan penyanyi Alvin Jo.

Harapan Pasca-Festival

Keuskupan Labuan Bajo berharap semangat "Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi" tidak berhenti saat panggung festival dibongkar. Romo Erick mengajak pemerintah, pelaku pariwisata, dan generasi muda untuk menjadikan pelestarian alam sebagai gaya hidup berkelanjutan.

Festival Golo Koe 2026 menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa Labuan Bajo yang indah hanya akan tetap ada jika manusia mau menjaga rumah bersamanya dengan penuh tanggung jawab.

Tanggal Agenda Utama
10-15 Agustus Pameran UMKM & Edukasi Ekologis
11 Agustus Aksi Ekologis & Tanam Mangrove (Pantai Binongko)
13 Agustus Pentas Caci Kolosal & Karnaval Budaya
14 Agustus Prosesi Akbar Maria Asumpta (Jalur Laut)
15 Agustus Ekaristi Agung & Konser Penutup (Alvin Jo)
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |