Rekonstruksi kehidupan Tametara mirim.(Doc Gabriel Ugueto)
EVOLUSI ular dari kadal purba hingga menjadi hewan tanpa kaki yang bergerak melata menjadi misteri yang terus diperdebatkan. Selama lebih dari satu abad, para ilmuwan berdebat mengenai lingkungan mana yang mendorong nenek moyang ular melepaskan tungkai mereka apakah bawah tanah, air, atau daratan.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 22 Juli 2026 kini memberikan bukti baru yang berpotensi menyelesaikan perdebatan panjang tersebut. Jawaban ini didapat melalui penemuan fosil ular berusia sekitar 80 juta tahun yang ditemukan tertanam di dalam batuan di negara bagian São Paulo, Brasil.
Spesies baru bernama Tametara mirim ditemukan pada tahun 2020. Fosil ini sangat langka dan berharga karena menjadi fosil ular pertama dalam posisi tulang terhubung dalam susunan aslinya yang pernah ditemukan di negara tersebut, sekaligus menjadi salah satu fosil ular era Mesozoikum terbaik di dunia.
Adaptasi Tengkorak Tebal untuk Menggali Tanah
Melalui pemindaian CT scan beresolusi tinggi, para peneliti berhasil merekonstruksi rongga otak, saraf tengkorak, serta telinga dalam dari Tametara mirim, menjadikannya ular purba dengan anatomi otak paling lengkap. Hasil pemindaian tersebut menunjukkan bahwa struktur tengkorak ular ini sangat tebal dan padat, yang merupakan ciri khas hewan penggali tanah (fossorial).
Ciri khas tengkorak tebal tersebut terbentuk secara terpisah pada berbagai jenis kadal penggali tanah. Struktur tulang yang padat ini diduga berfungsi untuk memperkuat area kepala dari tekanan keras saat digunakan untuk menggali lapisan tanah.
"Pusat penglihatan yang berkurang dan otak depan yang disederhanakan mengarah pada hal yang sama dengan tulangnya: bawah tanah," ujar salah satu penulis penelitian, Dr. Roy Ebel, peneliti dari Museums Victoria Research Institute.
Keragaman Jalur Evolusi dan Asal-usul Ular
Penemuan Tametara mirim kemudian dibandingkan dengan Dinilysia patagonica, fosil ular era Kapur asal Argentina. Berbeda dengan Tametara mirim yang hidup di bawah tanah dengan penglihatan terbatas, struktur tulang dan otak Dinilysia patagonica menunjukkan bahwa ia hidup di permukaan tanah terbuka.
"Dua ular tertua yang dapat kita pelajari dalam detail ini memiliki otak yang lebih berbeda satu sama lain daripada kebanyakan lini ular yang hidup saat ini. Dinilysia patagonica bukanlah penggali tanah. Ia hidup di permukaan," jelas Ebel.
Menurut Ebel, struktur otak kedua spesies memperlihatkan perbedaan adaptasi indra mereka. Tametara mirim mengalami penurunan penglihatan akibat hidup di bawah tanah yang gelap, sedangkan Dinilysia patagonica teradaptasi untuk ruang terbuka. Hal ini mempertegas bahwa spesialisasi indra telah terjadi sejak awal keberadaan ular.
Berdasarkan perbandingan ini, para peneliti menyimpulkan bahwa evolusi ular tidak berasal dari satu jalur lingkungan saja, melainkan bercabang secara sejajar ke berbagai habitat sejak era awal. Keanekaragaman ekologis purba inilah yang membentuk lebih dari 4.200 spesies ular modern saat ini, mulai dari ular darat, penggali tanah, hingga ular laut.
"Suatu saat di era dinosaurus, satu garis keturunan kadal kehilangan anggotanya dan memanjangkan tubuhnya. Pertanyaan kuncinya adalah mengapa," kata Ebel.
Para peneliti menyimpulkan bahwa studi ini mengonfirmasi pola hidup menggali tanah pada ular purba sekaligus menjawab perdebatan lama. Hasil ini membuktikan bahwa transformasi kadal menjadi ular didorong oleh eksperimen ekologis yang beragam sejak awal evolusi mereka.
Sumber: Sci.News, Discover Magazine


















































