Gizi Saja tidak Cukup untuk Kualitas Pendidikan Indonesia

3 days ago 5
Gizi Saja tidak Cukup untuk Kualitas Pendidikan Indonesia Dapur SPPG tengah menyiapkan MBG.(Dok. Antara)

PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan yang signifikan. Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Jakarta, Jumat (14/8).

"Memberi makan bergizi saja, kita sadar tidak cukup. Anak-anak kita harus memperoleh pendidikan yang baik," ujar Presiden Prabowo.

Ia menekankan bahwa pemerintah tengah menjalankan program perbaikan sekolah terbesar dalam sejarah Indonesia guna menunjang visi tersebut.

Tahun ini, pemerintah mengklaim telah memperbaiki lebih dari 71.744 sekolah, melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 17.000 sekolah. Target ini akan terus ditingkatkan menjadi 100.000 sekolah per tahun pada 2027 dan 2028, dengan ambisi menuntaskan renovasi seluruh sekolah dan pesantren di Indonesia pada 2029.

Perbaikan infrastruktur ini juga menjangkau wilayah terluar seperti Pulau Miangas. Untuk memastikan pemerataan layanan di wilayah terpencil dari Sabang hingga Merauke, pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus yang juga akan menyasar perbaikan fasilitas kesehatan seperti puskesmas.

Selain fisik bangunan, digitalisasi menjadi pilar utama. Pemerintah menargetkan setiap sekolah memiliki empat ruang kelas yang dilengkapi layar pintar interaktif (interactive flat panel) pada Desember 2026. Perangkat ini memungkinkan akses kurikulum global dan materi pembelajaran yang dapat diulang secara mandiri oleh siswa, bahkan dari rumah.

Strategi lainnya adalah pembangunan studio terpusat yang melibatkan guru-guru terbaik untuk menyiarkan pembelajaran jarak jauh ke ribuan sekolah. "Pelajaran apa pun kita akan kumpulkan guru-guru terbaik," tegas Prabowo.

Di sisi kurikulum, Prabowo mendorong pengajaran bahasa asing sejak kelas 1 SD. Bahasa yang diprioritaskan meliputi Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, hingga Rusia. Penguasaan bahasa asing sejak dini dinilai krusial agar generasi muda Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar kerja global.

Presiden menilai kebutuhan tenaga kerja internasional merupakan peluang besar. Oleh karena itu, kombinasi antara fasilitas sekolah yang layak, teknologi digital, dan kemampuan bahasa asing menjadi kunci persiapan generasi masa depan Indonesia di tingkat internasional. (Z-10)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |