Gol Haaland Sah, tapi Mengapa VAR Justru Diakui Keliru?

6 days ago 4
Gol Haaland Sah, tapi Mengapa VAR Justru Diakui Keliru?  Penyerang Manchester City Erling Haaland melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Manchester United di laga Liga Primer Inggris(AFP/PAUL ELLIS )

Sepak bola modern punya satu teknologi yang seharusnya membuat keputusan wasit menjadi lebih akurat, yaitu Video Assistant Referee atau biasa kita kenal dengan VAR.

Teknologi itu hadir untuk mengurangi kesalahan dalam momen-momen penting pertandingan. Namun, apa yang terjadi di Old Trafford, Minggu (13/9/2026), justru menunjukkan sisi lain dari VAR. Tidak hanya gagal meredam kontroversi, teknologi itu justru melahirkan perdebatan baru.

Gol Erling Haaland yang membawa Manchester City menang 1-0 atas Manchester United pada pekan keempat Liga Primer Inggris, Minggu (13/9/2026), menjadi hal yang ramai diperdebatkan.

Gol tersebut sempat dianulir karena Haaland dianggap berada dalam posisi offside. Namun, setelah mendapat masukan dari VAR dan meninjau kembali insiden tersebut, wasit Michael Oliver akhirnya mengesahkan gol Haaland.

Tapi kemudian masalah muncul. Beberapa jam setelah pertandingan, badan yang menaungi wasit profesional Inggris, Pro Ref, mengakui adanya kesalahan dalam proses pengambilan keputusan VAR. Mereka bahkan secara terbuka meminta maaf kepada Manchester United dan menyebut kelalaian mereka sebagai error of judgment atau kesalahan penilaian.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi?

Haaland Memang tidak Offside

Mari mulai dari posisi Haaland. Ketika Josko Gvardiol mengirimkan bola ke dalam kotak penalti Manchester United, Haaland bergerak menuju tiang jauh. Penyerang asal Norwegia itu kemudian berhasil menyambut bola dan mencetak gol.

Asisten wasit langsung mengangkat bendera karena menilai Haaland berada dalam posisi offside. Namun, wasit Michael Oliver kemudian mendapat masukan dari VAR untuk meninjau kembali insiden tersebut.

Hasil peninjauan menunjukkan Haaland ternyata tidak berada dalam posisi offside. Patrick Dorgu, pemain bertahan Manchester United, membuat posisi Haaland masih berada dalam batas yang diperbolehkan. Dengan kata lain, jika hanya melihat posisi Haaland saat bola dimainkan, tidak ada pelanggaran offside.

Lantas, mengapa gol tersebut tetap menjadi kontroversi?

Pergerakan Enzo Fernandez yang Jadi Perdebatan

Jawabannya ada pada pemain City lainnya, yaitu Enzo Fernandez. Saat bola dimainkan Josko Gvardiol, Fernandez berada dalam posisi offside. Ia kemudian bergerak menuju arah bola dan mencoba menyambut umpan tersebut.

Fernandez memang tidak berhasil menyentuh bola. Bola justru melewatinya dan kemudian mengarah kepada Haaland yang berada di tiang jauh.

Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit. Sebab, dalam aturan offside, jika seorang pemain berada dalam posisi offside tidak otomatis berarti pemain tersebut melakukan pelanggaran.

Seorang pemain baru dapat dihukum jika kemudian terlibat aktif dalam permainan. Salah satunya ketika tindakannya mengganggu lawan atau memengaruhi kemampuan lawan memainkan bola.

Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah Fernandez menyentuh bola atau tidak. Pertanyaannya adalah, apakah pergerakan Fernandez dari posisi offside tersebut memengaruhi pemain bertahan Manchester United dalam menghadapi serangan?

Tidak Menyentuh Bola Bukan Berarti Otomatis Aman

Fernandez memang tidak menyentuh bola. Namun, hal tersebut bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah ia melakukan pelanggaran offside.

Dalam situasi seperti ini, wasit harus melihat keseluruhan kejadian. Apakah pemain yang berada dalam posisi offside tersebut hanya kebetulan berada di sana, atau justru melakukan gerakan yang membuat lawan terganggu?

Fernandez bergerak menuju bola ketika pemain bertahan United juga sedang mengantisipasi arah umpan. Di titik inilah penilaian menjadi subjektif. Jika gerakan Fernández dianggap tidak memengaruhi pemain bertahan United, maka Haaland yang berada dalam posisi legal tetap dapat mencetak gol.

Namun, jika pergerakan Fernández dinilai mengganggu lawan atau memengaruhi kemampuannya memainkan bola, situasinya bisa berbeda. Sehingga, bagian inilah yang harusnya kemudian menjadi sorotan dalam proses peninjauan melalui VAR.

Mengapa Pro Ref Mengaku VAR Keliru?

Setelah pertandingan, Pro Ref menilai VAR seharusnya mengambil langkah lebih jauh dalam insiden tersebut. Menurut Pro Ref, persoalan mengenai apakah Fernandez memengaruhi lawan merupakan penilaian subjektif.

Karena itu, VAR seharusnya merekomendasikan Michael Oliver untuk melakukan on-field review, yakni melihat sendiri tayangan ulang di monitor pinggir lapangan sebelum mengambil keputusan akhir.

Dengan demikian, kesalahan yang diakui bukan semata-mata karena VAR salah melihat posisi Haaland. Justru sebaliknya, pemeriksaan menunjukkan Haaland memang tidak offside.

Persoalannya adalah apakah VAR sudah melakukan pemeriksaan yang cukup terhadap keterlibatan Fernandez dalam rangkaian serangan tersebut.

Pro Ref kemudian mengakui bahwa wasit seharusnya diberi kesempatan untuk menilai sendiri aspek subjektif tersebut melalui tayangan ulang.

VAR Membantu, tapi Keputusan Tetap di Tangan Wasit

Kasus ini memperlihatkan satu persoalan yang kerap muncul dalam penggunaan VAR. Teknologi dapat membantu wasit melihat sebuah kejadian dengan lebih jelas. Garis offside dapat ditarik, tayangan dapat diperlambat, dan sebuah insiden bisa dilihat dari berbagai sudut.

Tetapi tidak semua keputusan sepak bola dapat diselesaikan hanya dengan garis dan gambar. Apakah seorang pemain mengganggu lawan?, apakah gerakannya memengaruhi bek?, a[pakah pemain yang berada dalam posisi offside benar-benar terlibat aktif dalam permainan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membutuhkan penilaian manusia. Karena itu, VAR bukanlah pengganti wasit. VAR berfungsi membantu wasit meninjau insiden-insiden tertentu yang memenuhi kriteria pemeriksaan berdasarkan tayangan ulang.

Dalam kasus gol Haaland, keputusan akhirnya tetap berada di tangan Michael Oliver.

Lalu, Sah atau Tidak?

Manchester City tetap menang 1-0 atas Manchester United dan membawa pulang tiga poin dari Old Trafford. Gol Haaland juga tetap tercatat sebagai gol kemenangan.

Namun, pengakuan Pro Ref membuat insiden tersebut menjadi lebih menarik untuk dibahas. Sebab, kontroversinya bukan lagi sekadar pertanyaan apakah Haaland offside atau tidak.

Haaland ternyata tidak offside. Persoalannya justru bergeser kepada Fernández yang berada dalam posisi offside dan bergerak menuju bola.

Apakah gerakannya cukup untuk dianggap mengganggu lawan? VAR dalam pertandingan tersebut menilai tidak. Namun, Pro Ref kemudian menilai VAR seharusnya meminta wasit melakukan peninjauan langsung sebelum keputusan akhir dibuat.

Pada akhirnya, keputusan pertandingan tidak berubah. Manchester City tetap menang, Haaland tetap menjadi pencetak gol penentu kemenangan, dan Manchester United tetap harus menerima kekalahan di kandang sendiri.

Namun, satu hal masih menyisakan perdebatan adalah,  jika Haaland memang tidak offside, apakah pergerakan Fernández seharusnya membuat wasit meninjau kembali keabsahan gol tersebut? Di situlah kontroversi gol Haaland dalam Derby Manchester kali ini belum benar-benar selesai.
 

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |