Gula Darah Terlalu Rendah Bisa Ganggu Fungsi Kognitif dan Tingkatkan Risiko Demensia

5 days ago 3
Gula Darah Terlalu Rendah Bisa Ganggu Fungsi Kognitif dan Tingkatkan Risiko Demensia Ilustrasi(magnifik)

MENJAGA kadar gula darah tetap terkendali menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes. Namun, kadar gula yang terlalu rendah atau hipoglikemia juga perlu diwaspadai, terutama jika terjadi berulang. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan gangguan dalam jangka pendek, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko demensia.

Temuan tersebut dibahas dalam artikel review berjudul The cognitive consequences of hypoglycemia in diabetes yang diterbitkan dalam Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism. Artikel ini ditulis oleh Natalia Ancona, Ashish K. Rehni, Suresh Mallepalli, dan Kunjan R. Dave serta pertama kali dipublikasikan secara daring pada 27 April 2026.

Ketika Gula Darah Turun Terlalu Rendah

Dalam artikel tersebut, hipoglikemia umumnya merujuk pada kadar gula darah di bawah 70 mg/dL. Saat kondisi ini terjadi, tubuh dapat memberikan sejumlah tanda peringatan seperti berkeringat, jantung berdebar, dan gemetar.

Jika kadar gula semakin turun, gangguan pada fungsi otak dapat muncul. Seseorang bisa mengalami kebingungan, mengantuk, gangguan kesadaran, bahkan kehilangan kesadaran hingga koma pada kondisi yang berat.

Masalahnya, hipoglikemia yang terjadi berulang dapat membuat tubuh semakin kurang mampu memberikan respons terhadap penurunan gula darah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko episode hipoglikemia yang lebih berat pada kemudian hari.

Bisa Memengaruhi Fungsi Otak

Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi. Karena itu, ketika pasokan glukosa menurun, metabolisme otak ikut terdampak.

Para penulis merangkum berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa hipoglikemia berulang dapat berkaitan dengan gangguan fungsi mitokondria, peningkatan stres oksidatif, serta kerusakan pada sinaps. Bagian otak seperti hipokampus dan korteks juga disebut termasuk wilayah yang lebih rentan terhadap dampak hipoglikemia.

Dampaknya kemudian dapat terlihat pada kemampuan kognitif. Beberapa penelitian yang dirangkum dalam artikel menunjukkan adanya hubungan antara hipoglikemia berat dan penurunan kemampuan seperti memori, perhatian, kecepatan pemrosesan informasi, serta fungsi kognitif lainnya.

Berkaitan dengan Risiko Demensia

Tidak berhenti pada gangguan kognitif, artikel tersebut juga membahas sejumlah meta-analisis dan penelitian kohort yang menemukan hubungan antara hipoglikemia berat dan peningkatan risiko demensia pada pasien diabetes.

Namun, hubungan tersebut tidak berarti hipoglikemia secara langsung menjadi satu-satunya penyebab demensia. Para penulis justru menyoroti kemungkinan adanya hubungan dua arah. Gangguan kognitif dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipoglikemia, sementara episode hipoglikemia berulang atau berat juga berpotensi berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif.

Karena itu, pengelolaan diabetes tidak hanya perlu berfokus pada menurunkan gula darah, tetapi juga mencegah kadar gula turun terlalu rendah. Artikel tersebut menekankan pentingnya pengelolaan kadar glukosa yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien agar target pengendalian diabetes dapat tercapai tanpa meningkatkan risiko hipoglikemia.

Sumber: SAGE Journals

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |