Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) minta perlunya pembenahan di sejumlah sektor khususnya di ruang persidangan untuk memetakan potensi bila terjadi konflik di persidangan.(Dok. )
KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menekankan pentingnya pembenahan teknis di sejumlah sektor, terutama di ruang persidangan, guna memetakan potensi konflik selama pelaksanaan Muktamar. Hal tersebut disampaikan Gus Yahya saat meninjau lokasi Muktamar di Jombang, Rabu (26/8).
Dalam peninjauan tersebut, Gus Yahya menyoroti perlunya pengawasan visual yang ketat di area musyawarah. "Saya kira di setiap venue persidangan perlu ada layar besar yang bisa meninjau keberlangsungan persidangan, agar kelihatan baris mana yang ricuh, kelompok mana yang rusuh," ujar Gus Yahya.
Gus Yahya memberikan dua penekanan teknis krusial untuk menjaga kelancaran dan kekhidmatan jalannya musyawarah. Selain pengadaan layar besar untuk memantau pergerakan peserta, ia juga menyoroti kedisiplinan penggunaan perangkat suara.
Menurutnya, disiplin pengeras suara menjadi penentu kunci kelancaran persidangan agar tidak terjadi tumpang tindih instruksi atau interupsi yang tidak terkendali. "Disiplin mic itu penting. Jangan biarkan orang pegang mic kecuali dipersilakan oleh pimpinan sidang," tegasnya.
Di sela-sela peninjauan infrastruktur, Gus Yahya sempat berkelakar saat mengapresiasi revitalisasi beberapa bangunan di lokasi. "Saya kira ini menara ini dipugar, jadi menara asli justru yang menyesuaikan desain logo Muktamar," ucapnya yang disambut gelak tawa para pendamping.
Sowan ke Ndalem Kasepuhan
Mengawali agenda di Jombang, Gus Yahya terlebih dahulu sowan ke Ndalem Kasepuhan KH Chasbullah yang berlokasi tepat di depan masjid. Saat ini, kediaman tersebut ditempati oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdullah Rozaq.
Pertemuan berlangsung hangat dengan perpaduan diskusi teknis mengenai kesiapan Muktamar dan kelakar khas pesantren. Dalam perbincangan tersebut, Gus Yahya mengungkapkan keyakinannya bahwa helatan ini mendapatkan restu dari Pendiri NU, KH A. Wahab Chasbullah.
Ia menceritakan pengalamannya saat berziarah ke maqbaroh Mbah Wahab. "Saya kira Mbah Wahab yang menjadi wasilah Muktamar Tambakberas ini. Saya selalu matur ke Mbah Wahab, Mbah Wahab sudah pasrah ke Kiai Rozaq: 'Wis awakmu turu ae, wis ono Kiai Rozaq,'" tuturnya.
Gus Yahya juga mengenang momen unik saat berziarah yang kerap dipadati warga dari berbagai daerah. Ia menceritakan pernah ada peziarah asal Pati yang berbisik menitipkan pesan terkait keamanan Muktamar. "Pernah ada orang Pati tiba-tiba berbisik, titip Gus Rozin untuk jalan tengah kalau rusuh. Lah, ditunggoni Mbah Wahab kok rusuh," lanjutnya berseloroh.
Silaturahmi tersebut ditutup dengan kenangan percakapan bersama KH Amanullah, Anggota DPR RI periode 1999–2004, mengenai dinamika unik warga lokal dalam menyambut agenda besar organisasi. (FL/I-1)


















































