Ilustrasi(MI/HENDRI KREMER)
HARGA cabai merah keriting di Kota Batam mencatat lonjakan signifikan pada bulan Juli 2026, sebelum akhirnya mengalami penurunan kembali di awal hingga pertengahan Agustus ini. Data harga bahan pokok menunjukkan harga cabai merah keriting naik sebesar 15,3% dalam kurun waktu satu bulan, dari sekitar Rp43.650 per kilogram menjadi puncak Rp50.350 per kilogram pada akhir Juli.
Kenaikan tersebut didorong oleh keterbatasan pasokan yang masuk ke Batam. Sebagai kota yang tidak memproduksi cabai secara mandiri, seluruh kebutuhan cabai di Batam sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah. Gangguan distribusi serta penurunan hasil panen di daerah penghasil menjadi penyebab utama berkurangnya pasokan yang berdampak langsung pada kenaikan harga di pasar-pasar Batam.
Kenaikan harga yang bertahan sekitar 2–3 minggu membuat banyak pembeli memilih menunda pembelian sambil menunggu harga kembali normal, dan sebagian beralih menggunakan cabai kering sebagai pengganti sementara.
"Harga ambil dari pemasok naik, jadi terpaksa ikut naik. Banyak pembeli bilang mau tunggu 3–5 hari dulu lihat harga turun atau tidak. Yang tetap beli, banyak yang minta cabai kering sebagai gantinya," ujar Sarmin, 46, pedagang di Pasar Tos 3000, Batam, Kamis (20/8).
Sementara itu, para pembeli juga mengaku harus mengatur ulang pengeluaran harian mereka.
"Kalau masih mahal, mungkin tunda beli sampai 1 minggu lebih. Cabai kering sekarang jadi pilihan, meski rasanya beda, tapi lebih awet dan harganya lebih stabil," Riwanti, 32, pembeli.
Namun, memasuki awal hingga pertengahan Agustus 2026, harga cabai merah keriting mulai terkoreksi. Per 19 Agustus 2026, harga di pasar modern Batam tercatat turun berkisar antara 4% hingga 12% dibandingkan puncak harga di bulan sebelumnya. Penurunan ini seiring dengan memulihnya arus pasokan yang masuk ke wilayah Batam.
Kenaikan harga cabai merah keriting sebelumnya turut menyumbang 0,20% terhadap laju inflasi di Batam, menjadikannya kontributor terbesar dalam kelompok bahan pangan. Sementara itu, laju inflasi tahunan Batam per Juni 2026 tercatat di angka 4,75%.
Meski sempat melonjak dan memberi tekanan pada biaya hidup warga, dampak kenaikan harga tersebut terhadap perekonomian Batam secara keseluruhan dinilai terbatas dan bersifat sementara. Pasalnya, sektor penggerak utama ekonomi Batam adalah industri, perdagangan, pariwisata, dan jasa — bukan sektor pertanian. Fluktuasi harga cabai yang sifatnya musiman dan sangat dipengaruhi pasokan tidak akan mengubah fundamental perekonomian kota ke depan.
Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya menjaga stabilitas harga dan kelancaran distribusi bahan pokok. Meski begitu, risiko lonjakan harga tetap mengintai jika terjadi gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem atau kendala logistik. Warga diimbau tetap memantau perkembangan harga di pasar, sementara pihak berwenang berkomitmen terus memantau arus pasokan untuk mencegah kenaikan harga yang berlebihan.
Plh Kadisperindag Kota Batam Suhar ketika dikonfirmasi masih belum menjawab. Karena selain pelantikannya hanya bersifat mengisi kekosongan saja, sejak Gustian Riau mundur. (H-2)













































