Ilustrasi.(Magnific)
PASAR minyak global kini berada dalam posisi rentan seiring menipisnya cadangan penyangga keamanan pasokan. Para analis memperkirakan harga minyak sulit turun ke bawah level US$100 per barel dalam waktu dekat, menyusul upaya keras Arab Saudi untuk memulihkan jaringan pipa strategis yang rusak akibat serangan.
Penutupan pipa East-West oleh Arab Saudi--jaringan krusial yang mengangkut minyak mentah dari Abqaiq di pesisir Teluk timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah--menempatkan 4 juta barel per hari dalam risiko. Kondisi ini memicu lonjakan tajam harga minyak mentah di pasar internasional.
Situasi ini menjadi kabar buruk bagi konsumen global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serangan darat oleh kelompok Houthi di sepanjang pantai Laut Merah, serta gelombang serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.
Harga Minyak Melambung Tinggi
Pada perdagangan Selasa (15/9) pagi, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 0,6% menjadi US$106,29 per barel. Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan setelah melonjak lebih dari 21% selama sebulan terakhir.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober diperdagangkan naik 1,2% di level US$102,61. Kontrak ini meningkat lebih dari 25% dalam sebulan terakhir dan melampaui angka US$100 untuk pertama kalinya sejak Mei lalu.
Penyusutan Cadangan Global
Arab Saudi menutup sementara pipa East-West pada Jumat pekan lalu sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone yang diluncurkan dari Irak. Citra satelit Vantor menunjukkan kerusakan akibat kebakaran dan area hitam yang luas di sekitar stasiun pompa pipa tersebut pascaserangan 11 September 2026.
Analis memperingatkan bahwa jaring pengaman pasar minyak berupa stok cadangan global mulai menguap dengan cepat. Paul Gooden, kepala sumber daya alam di Ninety One, menyatakan bahwa inventaris telah berkurang sekitar 1 miliar barel akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Analisis Pasar: "Reaksi harga yang relatif terkendali menunjukkan pasar masih berharap inventaris Saudi dapat menahan ekspor dalam jangka pendek. Namun, jika gangguan melampaui batas cadangan lima hingga tujuh hari, situasi bisa berubah dengan cepat," ujar Janiv Shah, Wakil Presiden pasar minyak Rystad Energy.
Risiko Jalur Distribusi
Kerusakan pada pipa sepanjang 750 mil atau sekitar 1.207 km ini memaksa aliran minyak dialihkan kembali melalui Selat Hormuz, jalur air yang saat ini sangat volatil dan hanya beroperasi setengah dari kapasitas normalnya akibat konflik.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, memperkirakan perbaikan stasiun pompa yang rusak bisa memakan waktu berbulan-bulan. Selain itu, Laura James dari Oxford Analytica menyoroti bahwa meskipun pipa berhasil diperbaiki, ancaman di jalur Laut Merah dan Bab al-Mandab tetap tinggi karena tekanan regional untuk menghentikan keluarnya minyak dari kawasan tersebut.
Saat ini, negara-negara Teluk dilaporkan mulai melakukan mobilisasi serius untuk mengatasi krisis pasokan ini, termasuk indikasi persiapan diplomatik antara Oman dan Iran guna meredakan ketegangan di jalur distribusi utama. (CNBC/I-2)


















































