(Youtube Hillary Clinton)
MANTAN Sekretaris Negara Amerika Serikat, Hillary Clinton, melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait penanganan peringatan dini sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam penampilannya di program Morning Joe MS NOW, Clinton menyebut kegagalan tersebut sebagai bentuk kegagalan kepemimpinan yang fatal.
Clinton menanggapi laporan investigasi surat kabar Israel, Haaretz, yang menyebutkan bahwa Netanyahu menerima peringatan sekitar 10 hari sebelum serangan dari Presiden Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed (MbZ). Laporan tersebut mengeklaim MbZ memperingatkan bahwa kelompok militan Hamas sedang mempersiapkan operasi besar.
Dua Spekulasi Clinton
Membahas dugaan dalam laporan yang ia sebut sebagai bombshell tersebut, Clinton menawarkan dua kemungkinan penjelasan atas sikap Netanyahu yang tidak meneruskan peringatan itu kepada pejabat keamanan senior Israel.
"Entah dia tidak mempercayainya, atau--sangat mengerikan untuk mengatakannya--dia ingin melihat apa yang bisa mereka (Hamas) rencanakan sehingga dia bisa membalas dengan keras dan memperkuat posisinya," ujar Clinton. Meski mengaku tidak memahami alasan pastinya, ia menegaskan bahwa ini bentuk kegagalan dalam melindungi rakyat Israel.
Laporan Haaretz: Jurnalis Shlomi Eldar dan Ruth Yuval dalam buku terbaru mereka mengeklaim Netanyahu melakukan percakapan telepon selama 45 menit dengan MbZ. Pemimpin UEA tersebut menyatakan kekhawatiran bahwa operasi Yahya Sinwar akan menumpahkan darah dan merusak stabilitas kawasan serta Abraham Accords.
Reaksi dan Bantahan Netanyahu
Benjamin Netanyahu dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyebut laporan Haaretz sebagai fabrikasi jahat dengan momentum politik yang jelas. Ia menyatakan rencana untuk menuntut surat kabar tersebut dan menyerukan penyelidikan atas klaim tersebut.
Namun, laporan itu memicu gelombang kritik dari oposisi Israel. Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett menyatakan Netanyahu memikul tanggung jawab pribadi dan langsung atas kematian pada 7 Oktober dan mendesaknya untuk segera mundur. Pemimpin partai Demokrat, Yair Golan, juga menuduh Netanyahu telah membahayakan keselamatan Israel.
Implikasi Politik dan Pemilu Israel
Komentar Clinton muncul hanya beberapa minggu sebelum Israel dijadwalkan menggelar pemilihan umum untuk 120 kursi Knesset pada 27 Oktober 2026. Pemilu ini akan menjadi penentu apakah Netanyahu, perdana menteri terlama di Israel, dapat mempertahankan kekuasaannya.
Clinton juga menyinggung hubungan masa depan Washington dengan Israel. Ia menyarankan agar AS mengambil posisi yang sangat tegas jika rakyat Israel kembali memilih pemerintahan yang sama. Selain itu, ia mendesak perdana menteri baru nanti untuk menindak keras kekerasan pemukim di Tepi Barat yang ia nilai berbahaya bagi masyarakat Israel maupun Palestina.
Hingga saat ini, Netanyahu terus menolak tuntutan untuk penyelidikan independen terhadap peristiwa yang menyebabkan serangan 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan mengakibatkan 251 lain disandera. (Newsweek/I-2)


















































