Houthi.(Al Jazeera)
KELOMPOK pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran mengeklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada Sabtu (25/7). Aksi ini menandai serangan pertama kelompok tersebut ke wilayah kerajaan sejak tahun 2022.
Dalam satu pernyataan video, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pihaknya menembakkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas milik perusahaan minyak negara, Aramco. Serangan tersebut menargetkan kota-kota di pesisir Laut Merah, yakni Yanbu dan Jazan.
Pelabuhan Yanbu merupakan gerbang utama bagi pipa minyak kerajaan yang selama ini membantu Arab Saudi menghindari blokade Iran di Selat Hormuz. Hingga saat ini, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut secara resmi. Namun, pasukan pertahanan sipil negara itu mengeluarkan peringatan kepada warga di kedua kota tersebut untuk segera berlindung pada Sabtu pagi.
"Jangan tinggalkan rumah atau gedung Anda sampai bahaya berlalu," tulis peringatan dari pasukan pertahanan sipil kerajaan melalui media sosial.
Dampak pada Pasokan Minyak Global
Pihak Aramco maupun Kementerian Luar Negeri Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Sejauh ini, belum jelas seberapa besar kerusakan yang terjadi atau bagaimana dampaknya terhadap output minyak. Namun, platform pemantauan kebakaran NASA, FIRMS, melaporkan ada beberapa anomali termal di kilang Jazan. Fasilitas tersebut diketahui memiliki kapasitas pengolahan hingga 400.000 barel minyak per hari.
Serangan ini dikhawatirkan akan menambah tekanan pada pasar minyak global, di tengah gangguan yang sudah terjadi akibat penutupan Selat Hormuz. Toby Matthiesen, profesor dan pakar Teluk dari University of Bristol, menilai eskalasi ini menciptakan lapisan ketidakpastian baru bagi pasokan minyak dunia.
"Saya rasa tidak ada pihak yang benar-benar berkepentingan untuk meningkatkan eskalasi ini, tetapi kita melihat sebelumnya bagaimana situasi bisa lepas kendali," ujar Matthiesen. Ia menambahkan bahwa konflik jangka panjang dapat mengganggu rencana pembangunan ekonomi Arab Saudi.
Respons atas Serangan di Hodeida
Hussain Albukhaiti, komentator politik pro-Houthi yang berbasis di Yaman, menyebut serangan ini lebih berkaitan dengan keluhan lama terhadap Arab Saudi daripada perang di Iran. Ia memperingatkan bahwa Houthi akan melakukan eskalasi lebih lanjut jika Amerika Serikat merespons, termasuk kemungkinan blokade terhadap kapal komersial atau kapal perang AS.
Yahya Saree menjelaskan bahwa serangan pada Sabtu tersebut merupakan respons atas serangan udara Arab Saudi di kota Hodeida, Yaman, pada Jumat sebelumnya. Pasukan koalisi pimpinan Saudi menyatakan mereka menargetkan instalasi militer Houthi yang mengancam pelayaran di Laut Merah.
Pekan lalu, pemimpin Houthi Abdul Malek al-Houthi bersumpah akan menargetkan fasilitas minyak Saudi jika negara tersebut terlibat dalam perang regional yang lebih luas. Pada Senin, Houthi juga mendeklarasikan embargo terhadap pelayaran Saudi, yang secara efektif menutup Selat Bab al-Mandeb, titik transit vital yang menghubungkan Asia dan Afrika dengan Eropa.
Serangan ini membangkitkan ingatan pada peristiwa tahun 2019, ketika rentetan drone Houthi menghantam fasilitas Aramco di wilayah timur dan sempat memotong setengah dari total produksi minyak kerajaan. Meskipun negara-negara Teluk berupaya membangun pipa baru untuk memintas Selat Hormuz, serangan ke Yanbu menunjukkan bahwa infrastruktur alternatif tersebut tetap rentan terhadap ancaman militer. (The Washington Post/I-2)


















































