Ilmuwan Temukan Antibodi yang Berpotensi Cegah Infeksi Epstein-Barr Virus

6 days ago 4
Ilmuwan Temukan Antibodi yang Berpotensi Cegah Infeksi Epstein-Barr Virus Ilustrasi(magnifik)

PARA ilmuwan mengembangkan sejumlah antibodi monoklonal yang berpotensi menjadi pendekatan baru untuk mencegah infeksi Epstein-Barr virus (EBV), salah satu virus yang paling banyak menginfeksi manusia. Virus ini diperkirakan telah menginfeksi sekitar 95 persen orang dewasa di dunia dan umumnya dapat menetap di dalam tubuh setelah infeksi awal.  

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell Reports Medicine pada Februari 2026 dilakukan oleh tim dari Fred Hutch Cancer Center dan sejumlah institusi penelitian lainnya. Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan tikus transgenik yang membawa gen antibodi manusia untuk menghasilkan antibodi monoklonal yang dapat mengenali bagian tertentu dari EBV.  

Hasil penelitian menghasilkan 10 antibodi monoklonal, terdiri dari dua antibodi yang menargetkan protein gp350 dan delapan lainnya menargetkan gp42. Kedua protein tersebut berperan penting dalam proses EBV ketika memasuki sel tubuh.

Protein gp350 membantu virus menempel pada reseptor di permukaan sel, sedangkan gp42 berperan dalam proses masuknya virus ke dalam sel. Dengan menghambat kedua mekanisme tersebut, antibodi yang dikembangkan diharapkan dapat mengganggu tahap awal infeksi EBV. 

Salah satu hasil yang menarik terlihat ketika antibodi diuji pada tikus dengan sistem kekebalan yang menyerupai manusia. Antibodi yang menargetkan gp42 mampu memberikan perlindungan terhadap infeksi EBV dalam model tersebut. Sementara itu, antibodi yang menargetkan gp350 memberikan perlindungan sebagian. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua target tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bagian dari strategi pencegahan infeksi.  

EBV sendiri termasuk keluarga virus herpes. Banyak orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala berarti. Namun, pada sebagian orang, infeksi EBV dapat menyebabkan mononukleosis infeksiosa. Virus ini juga memiliki hubungan dengan sejumlah penyakit serius, termasuk beberapa jenis kanker, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.  

Karena EBV dapat bertahan dalam tubuh dalam keadaan laten, pengembangan terapi yang secara khusus menargetkan virus tersebut menjadi tantangan tersendiri. Hingga saat ini, belum tersedia terapi khusus yang secara langsung ditujukan untuk menghilangkan EBV dari tubuh. Karena itu, antibodi baru tersebut menjadi salah satu langkah penelitian yang menarik untuk dikembangkan.  

Meski demikian, hasil penelitian ini belum berarti antibodi tersebut sudah menjadi obat yang dapat digunakan manusia. Bukti perlindungannya sejauh ini berasal dari pengujian laboratorium dan model hewan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui keamanan, efektivitas, dosis, serta apakah pendekatan tersebut dapat memberikan manfaat yang sama pada manusia.

Para peneliti berharap temuan ini dapat membantu membuka jalan bagi pengembangan terapi berbasis antibodi maupun vaksin EBV di masa mendatang. Jika berhasil melalui tahapan penelitian berikutnya, strategi tersebut berpotensi memberikan perlindungan terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi akibat infeksi EBV.

Sumber: NCBI

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |