Ilmuwan Temukan Cara Prediksi Waktu Munculnya Gejala Alzheimer

3 days ago 3
Ilmuwan Temukan Cara Prediksi Waktu Munculnya Gejala Alzheimer Ilustrasi.(Magnific)

PARA peneliti menemukan metode skrining baru yang memungkinkan tenaga medis menentukan kapan pasien berisiko tinggi mulai mengalami penurunan kognitif akibat penyakit Alzheimer. Penemuan ini menjadi terobosan penting dalam upaya intervensi dini sebelum kerusakan otak yang parah terjadi.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Columbia ini menemukan bahwa penggabungan tes darah yang mengukur biomarker p-tau217 dengan tes genetik untuk varian gen APOE4 dapat memprediksi munculnya tanda-tanda Alzheimer pada pasien yang saat ini belum menunjukkan gejala (asimtomatik).

Hasil penelitian itu diterbitkan dalam jurnal The Lancet Neurology pada 9 September. Ebrahim Zandi, profesor imunologi dari University of Southern California, menilai langkah ini sangat maju karena menunjukkan bahwa penanda darah p-tau217 tidak hanya memberikan informasi tentang risiko, tetapi juga potensi kecepatan perkembangan gangguan kognitif.

Cara Kerja Tes Kombinasi

Dalam tinjauan data klinis terhadap hampir 9.000 orang, peneliti menemukan pola yang signifikan:

  • Orang dengan kadar p-tau217 tinggi sekaligus memiliki varian gen APOE4 memiliki risiko 24 persen lebih tinggi untuk berkembang ke penyakit Alzheimer.
  • Sebagai perbandingan, mereka yang tidak membawa gen tersebut hanya memiliki risiko sebesar 13 persen.
  • Pasien dengan kadar p-tau217 tinggi dan memiliki satu atau lebih salinan gen APOE4 kemungkinan besar akan mengalami penurunan kognitif dalam waktu tiga hingga empat tahun.

Biomarker p-tau217 sendiri merupakan bentuk protein tau yang meningkat saat patologi Alzheimer berkembang. Karena dapat diukur melalui darah, biomarker ini berfungsi sebagai sinyal peringatan dini. Sementara itu, gen APOE4 bertindak sebagai latar belakang risiko genetik pasien.

Catatan Ahli: Meskipun menjanjikan, Ebrahim Zandi mengingatkan agar tidak menyebut metode ini sebagai 'jam' Alzheimer yang pasti, karena studi ini memprediksi gangguan kognitif klinis, bukan waktu pasti munculnya gejala pada setiap individu secara spesifik.

Pentingnya Deteksi Dini dan Variasi Etnis

Temuan ini sangat berharga karena Alzheimer berkembang selama bertahun-tahun. Intervensi medis diyakini paling efektif jika dilakukan sebelum terjadi kerusakan otak yang substansial. Dengan mengetahui lintasan penurunan kognitif lebih awal, dokter dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat.

Namun, Thomas Karikari, profesor psikiatri dari University of Pittsburgh School of Medicine, memberikan catatan penting mengenai keberagaman. Ia menekankan bahwa hubungan antara tes darah, risiko genetik, dan perkembangan Alzheimer bervariasi berdasarkan latar belakang genetik, ras, dan etnis.

"Prediksi risiko ini bukan satu ukuran untuk semua (one size fits all). Kita membutuhkan studi dengan populasi yang lebih beragam untuk memastikan alat ini memberikan penilaian risiko yang akurat bagi semua pasien, tanpa meremehkan risiko pada kelompok tertentu atau melebih-lebihkannya pada kelompok lain," pungkas Karikari. (Newsweek/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |