Seorang siswa menutup matanya saat menunggu giliran disuntikkan vaksin imunisasi Measles Rubella (MR) pada kegiatan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). Program BIAS Diptheria Tetanus (DT), Tetanus Diphteria (TD), Measles Rubella (MR), dan Human Papiloma V( ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc.)
JANGKAUAN program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) di Kota Yogyakarta diperluas, tidak hanya ditujukan bagi anak perempuan, tetapi juga menyasar anak laki-laki usia sekolah dasar. Kegiatan imunisasi bagi anak laki-laki ini akan dimulai Agustus 2026.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu menyampaikan, langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung akselerasi eliminasi kanker serviks dan berbagai penyakit keganasan akibat infeksi virus HPV di Indonesia.
Pelaksanaan imunisasi ini berlandaskan pada komitmen nasional yang tertuang dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030, sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. HK/01.07/MENKES/2176/2023.
"Program pencegahan ini sejatinya telah dirintis sejak beberapa tahun lalu dengan penyesuaian dosis dan sasaran yang terus disempurnakan," terang dr. Endang.
Pada tahun 2022, imunisasi HPV mulai diberikan di Kota Yogyakarta sebanyak dua dosis dengan sasaran anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Kemudian pada tahun 2025, dosis disesuaikan menjadi satu dosis saja bagi anak perempuan usia sekolah kelas 5 SD atau usia 11 tahun, disertai imunisasi kejar bagi anak perempuan kelas 6 SD atau usia 12 tahun dan kelas 9 SMP atau usia 15 tahun yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi HPV sebelumnya.
Memasuki tahun 2026, skema imunisasi mengalami perluasan signifikan dengan dilibatkannya anak laki-laki sebagai penerima manfaat utama. Sasarannya mencakup anak perempuan usia kelas 5 SD atau sederajat (11 tahun), serta anak perempuan kelas 6 SD (12 tahun) dan kelas 9 SMP (15 tahun) yang belum pernah menerima vaksin.
"Sementara itu, untuk anak laki-laki, imunisasi diberikan secara khusus kepada siswa kelas 5 SD atau sederajat usia 11 tahun di tiga provinsi pionir, yakni Provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali," ungkap dia.
Pelaksanaan imunisasi akan diintegrasikan secara serentak dalam momen Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Agustus 2026. Guna memastikan pemerataan cakupan dan jangkauan yang inklusif, tempat pelaksanaan tidak hanya terbatas pada sekolah formal.
“Tempat pelaksanaan mencakup sekolah formal SD dan SMP sederajat, pondok pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), hingga Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Kami ingin memastikan seluruh sasaran anak, baik yang menempuh pendidikan di sekolah formal maupun nonformal dan informal, dapat terjangkau dengan baik,” ungkap dia.
Pemilihan kelompok usia anak-anak sebagai sasaran imunisasi didasari oleh pertimbangan medis dan efektivitas imunitas yang sangat matang. Dibandingkan remaja lanjut dan dewasa, remaja muda membentuk respons imun yang jauh lebih kokoh.
Mengenai dilibatkannya anak laki-laki dalam program nasional ini, ia menjelaskan, infeksi HPV tidak hanya menyebabkan penyakit kanker serviks pada wanita. Virus ini juga berpotensi menyebabkan kanker pada vagina, serta kanker anus, penis, dan orofaring yang dapat terjadi pada laki-laki.
"Selain itu, pria dapat bertindak sebagai pembawa yang menularkan virus HPV (carrier) kepada wanita," terang dia.
Pemberian vaksin kepada anak laki-laki juga bertujuan untuk menangkal stigma bahwa vaksinasi ini "khusus perempuan" yang berorientasi pada isu hubungan seksual bebas.
Ia juga menjelaskan, infeksi HPV tidak masuk ke dalam sirkulasi darah dan tidak menyebabkan inflamasi, sehingga tidak merangsang tubuh untuk membentuk antibodi. Artinya, infeksi alamiah HPV tidak efektif untuk mengontrol infeksi selanjutnya.
Sementara itu, pemberian vaksin HPV memberikan proteksi yang baik dan persisten. Ia juga menegaskan, anggapan bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan itu tidak benar. HPV tidak menyebabkan kemandulan, dan banyak penelitian telah membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin HPV dengan kemandulan.
"Justru sebaliknya, vaksin HPV dapat mencegah infeksi virus HPV yang berpotensi menyebabkan kanker dan kutil kelamin, di mana hal tersebut bisa berdampak jauh lebih besar terhadap kesehatan reproduksi serta kualitas hidup seseorang,” paparnya. (H-4)


















































