Indonesia Bangun Ekosistem Terapi Sel dan Gen

3 weeks ago 35
Indonesia Bangun Ekosistem Terapi Sel dan Gen Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady.(Dok. MI)

INDONESIA mulai mempersiapkan pengembangan terapi berbasis sel dan gen sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan, terutama untuk menghadapi peningkatan beban penyakit kanker. Namun, penerapan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan berupa kesiapan infrastruktur, fasilitas produksi, bukti klinis, serta ekosistem layanan kesehatan.

Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung - Regenic Stem Cell, Sandy Qlintang, mengatakan perkembangan precision medicine dan cell therapy harus diikuti dengan kesiapan ekosistem agar dapat diterapkan secara aman dan berkelanjutan.

“Melalui DBSDLS, kami ingin mempertemukan perkembangan sains terkini dengan realitas implementasinya. Bukan hanya membahas teknologinya, tetapi juga bukti ilmiah, kesiapan infrastruktur, fasilitas produksi bersertifikasi GMP (CPOB), regulasi, hingga fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Sandy dalam Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 di Jakarta, Sabtu (29/8).

Menurut dia, kemajuan terapi berbasis sel dan gen perlu berjalan bersama dengan clinical evidence, tata kelola, serta pengawasan agar inovasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi pasien.

Perkembangan terapi sel dan gen menjadi perhatian seiring meningkatnya kasus kanker di Indonesia. Data Global Cancer Observatory dari International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat Indonesia memiliki sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian akibat kanker pada 2022.

Pemerintah juga memperkirakan tanpa perubahan strategi, beban kasus dan kematian akibat kanker di Indonesia dapat meningkat sekitar 63 persen pada periode 2025-2040.

Kondisi tersebut mendorong pengembangan pendekatan personalized medicine yang memungkinkan pencegahan, diagnosis, dan terapi disesuaikan dengan karakteristik biologis maupun genetik pasien.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady, mengatakan perkembangan ilmu kedokteran saat ini bergerak menuju terapi yang lebih presisi dan personal sehingga membutuhkan kolaborasi antara industri, akademisi, klinisi, dan regulator.

“Kalbe ingin terus menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan sains, inovasi, dan kolaborasi agar kemajuan teknologi kesehatan pada akhirnya dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien dan masyarakat Indonesia,” kata Irawati.

Selain terapi sel, perkembangan gene editing juga menjadi salah satu teknologi yang mendapat perhatian dalam pengembangan pengobatan masa depan. Teknologi seperti CRISPR/Cas9 telah berkembang dari tahap penelitian dasar menuju aplikasi terapi yang telah memperoleh persetujuan regulator di sejumlah negara.

Di Indonesia, penguatan kedokteran presisi juga dilakukan melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) yang dikembangkan pemerintah untuk memanfaatkan data genomik dalam memahami karakteristik penyakit.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pengembangan basis data genomik menjadi salah satu fondasi untuk mendukung transformasi kesehatan berbasis sains.

“Indonesia saat ini telah memiliki dua basis data tingkat populasi dan melalui pembangunan BGSI kita bersama-sama membangun basis data tingkat populasi yang ketiga, yaitu basis data genomik,” ujar Budi.

Dari sisi regulasi, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Taruna Ikrar, mengatakan pemerintah telah menyiapkan kerangka aturan untuk mendukung pengembangan terapi inovatif, termasuk terapi sel, RNA, dan gen.

Melalui Peraturan BPOM No. 8 Tahun 2025, BPOM memperkuat jalur regulasi untuk produk terapi tingkat lanjut (Advanced Therapy Medicinal Products/ATMP) dengan tetap mempertahankan standar keamanan, mutu, dan efikasi.

“Dalam mengawal babak baru pengobatan presisi ini, percepatan regulasi tetap harus berpijak pada prinsip tanpa kompromi terhadap aspek keamanan, kualitas, dan efikasi demi melindungi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Taruna.

Secara global, perkembangan cell and gene therapy terus meningkat. Dalam satu dekade terakhir, hampir 50 terapi sel dan gen telah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

Meski peluang pengembangan terapi tersebut semakin besar, Indonesia masih perlu memperkuat berbagai aspek pendukung, mulai dari kapasitas riset, fasilitas produksi, tenaga ahli, layanan rumah sakit, hingga mekanisme pembiayaan agar inovasi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. (Z-10)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |