Moestar Putrajaya(Dok MI)
Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putrajaya mengatakan Indonesia saat ini membutuhkan suasana kondusif agar pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menghadapi berbagai tantangan nasional maupun global.
Moestar menceritakan belakangan ini ruang publik dipenuhi beragam dinamika, pandangan, dan spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.
"Di era ketika arus informasi bergerak begitu cepat, berbagai ajakan, opini, maupun narasi dapat dengan mudah memengaruhi cara pandang publik?" Ujarmya.
Dalam situasi seperti ini, kata Moestar, yang paling dibutuhkan bukanlah reaksi yang didorong oleh emosi. Melainkan kejernihan berpikir, kedewasaan dalam bersikap, dan komitmen untuk selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan apa pun.
Ia setuju demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat.
Namun, demokrasi yang matang juga menuntut tanggung jawab agar setiap perbedaan pandangan disampaikan secara damai, bermartabat, dan tidak berkembang menjadi gesekan yang merugikan masyarakat luas.
Menurutnya tidak ada manfaat yang lebih besar daripada menjaga persatuan, ketertiban, dan rasa saling percaya sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
"Demokrasi harus menjadi ruang yang sehat untuk menyampaikan aspirasi. Perbedaan adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai berkembang menjadi konflik yang justru merugikan masyarakat dan mengganggu persatuan bangsa," kata Moestar.
Moestar mengatakan pemerintahan presiden Prabowo Subianto sedang menjalankan amanah yang diberikan rakyat. Berbagai tantangan yang dihadapi bangsa hari ini tentu tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Karena itu, sudah sewajarnya kita memberi kesempatan kepada pemerintah untuk bekerja, berbenah, dan menghadirkan perbaikan secara bertahap.
Moestar sepakat kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Tetapi kritik sebaiknya disampaikan dengan kepala dingin akan jauh lebih bermakna daripada tindakan yang justru memperuncing perpecahan.
"Indonesia membutuhkan energi kolektif untuk membangun, bukan menguras tenaga dalam konflik yang tidak membawa manfaat," jelasnya.
Ia menjelaskan saat ini dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi, geopolitik, dan ketidakpastian global.
Dalam keadaan seperti itu, persatuan, stabilitas, dan saling percaya merupakan modal yang tidak ternilai bagi kemajuan bangsa.
"Saat dunia menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, Indonesia justru memerlukan persatuan sebagai kekuatan utama. Energi bangsa sebaiknya diarahkan untuk membangun, bukan dihabiskan dalam konflik yang tidak produktif," ujarnya.
Moestar mengajak masyarakat bersama-sama menjaga suasana yang sejuk, menahan diri dari segala bentuk provokasi, serta mengedepankan dialog dan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap persoalan.
Indonesia adalah rumah bersama dimana Masa depan negeri ini akan lebih mudah diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa memilih akal sehat daripada amarah, persatuan daripada perpecahan, serta harapan daripada rasa saling curiga.
"Indonesia memerlukan kepala dingin, bukan bara konflik. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tanpa perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan demi masa depan yang lebih maju, adil, dan sejahtera," tutup Moestar. (P-5)


















































