Intelijen AS Ungkap Tiongkok Kantongi Data 220 Juta Pemilih Amerika

2 hours ago 2
Intelijen AS Ungkap Tiongkok Kantongi Data 220 Juta Pemilih Amerika Pemilih mengirimkan surat suara saat pemilu di AS.(Dok. AFP/Frederic J. BROWN)

KOMUNITAS Intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkapkan temuan mengejutkan terkait keamanan data nasional. Pihak intelijen menyebut Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah memperoleh data pendaftaran milik 220 juta pemilih pemilu AS melalui berbagai metode, mulai dari pembelian hingga peretasan.

Berdasarkan lembar fakta yang diperoleh kelompok wartawan Gedung Putih pada Kamis (30/7/2026), pengumpulan data skala besar ini melibatkan informasi yang tidak tersedia untuk publik. Dokumen tersebut telah dikonfirmasi oleh para pimpinan tertinggi dari Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI), Badan Keamanan Nasional (NSA), Badan Intelijen Pusat (CIA), dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).

"Republik Rakyat Tiongkok dan pihak-pihak yang bertindak atas nama mereka telah membeli, mencuri, atau meretas data pendaftaran pemilih sebanyak 220 juta warga Amerika," demikian tertulis dalam lembar fakta tersebut.

Potensi Manipulasi dan Intervensi

Dokumen intelijen tersebut mendefinisikan "intervensi dalam pemilu" sebagai upaya pengaruh, baik secara terbuka maupun terselubung, oleh pemerintah asing untuk memengaruhi proses demokrasi AS secara langsung maupun tidak langsung.

Komunitas Intelijen AS memperingatkan bahwa penguasaan data ini memberikan celah bagi pihak lawan untuk melakukan manipulasi. Hal ini mencakup upaya mencegah pemilih perorangan atau kelompok tertentu memberikan suara, menyebabkan keterlambatan di tempat pemungutan suara, hingga memaksa pemilih menggunakan surat suara sementara.

"Pihak-pihak lawan juga dapat memanfaatkan data pendaftaran untuk merancang upaya campur tangan atau pengaruh lainnya," tambah laporan tersebut.

Rekam Jejak Eksploitasi

Laporan ini juga mengungkap temuan tahun 2022, di mana badan intelijen AS mendeteksi adanya pelaku eksploitasi jaringan komputer asal Tiongkok yang diduga memperoleh data pendaftaran pemilih melalui platform perdagangan daring.

Isu campur tangan asing ini terus menjadi komoditas politik panas di Washington. Awal Juli lalu, Presiden AS Donald Trump menuding Tiongkok telah melakukan segala cara untuk menggagalkan kemenangannya pada Pemilu 2020. Trump bahkan menuduh pejabat intelijen AS sengaja menyembunyikan informasi krusial tersebut dari Gedung Putih.

Bantahan Pihak Tiongkok

Menanggapi tuduhan tersebut, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington memberikan pernyataan tegas. Melalui kantor berita RIA Novosti, pihak Tiongkok menyatakan bahwa mereka tidak pernah dan tidak akan pernah mencampuri urusan pemilihan presiden Amerika Serikat.

 Laporan intelijen ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan siber antara Washington dan Beijing menjelang siklus politik mendatang di Amerika Serikat. (Ant/Sputnik/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |