Kuwait International Airport setelah serangan drone menghantam Maret 2026(AFP)
MILITER Iran menyatakan situasi Amerika Serikat (AS) berada dalam kondisi "kacau dan tidak menguntungkan" di tengah meningkatnya ketegangan terkait Selat Hormuz. Teheran juga menyebut pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain menjadi sasaran utama aksi balasan Iran.
Dilansir dari Al- Jazeera, Minggu (26/7), Juru bicara militer Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, mengatakan AS gagal mencapai tujuannya di Selat Hormuz maupun dalam upaya melemahkan Iran.
"Situasinya kacau dan tidak menguntungkan bagi Amerika," kata Shekarchi dikutip dari Al Jazeera.
Ia menambahkan AS kini mencari "strategi baru". Menurutnya, kemungkinan Washington menarik diri dari perang "bergantung pada izin Zionis", yang merujuk pada Israel.
Sementara itu, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Akraminia mengatakan Iran mengambil tindakan untuk menegaskan haknya atas Selat Hormuz setelah "AS melanggar komitmennya dan mencoba menciptakan jalur palsu serta ilegal di Selat Hormuz" yang bertentangan dengan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni.
"Dalam operasi tersebut, Angkatan Darat Republik Islam Iran menjadikan pangkalan-pangkalan AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, yang dianggap sebagai pangkalan terpenting negara itu di kawasan, sebagai pusat operasi kami," ujar Akraminia seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Nota kesepahaman tersebut runtuh di tengah perselisihan AS dan Iran mengenai pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. AS sebelumnya melancarkan serangan ke Iran selama 13 malam berturut-turut, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Menurut laporan media AS, Presiden Donald Trump menghentikan sementara serangan pada Jumat karena kekhawatiran terhadap menipisnya persediaan rudal pencegat serta untuk membuka ruang bagi upaya diplomasi. (H-4)


















































