Ilustrasi.(Magnific)
MILITER Iran menyatakan bahwa posisi Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam kondisi kacau dan tidak menguntungkan menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan strategis Selat Hormuz. Teheran secara terbuka menyebut pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai sasaran utama aksi balasan mereka.
Juru bicara militer Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa Washington gagal mencapai tujuannya, baik dalam mengamankan kepentingan di Selat Hormuz maupun dalam upaya melemahkan pengaruh Iran di kawasan tersebut.
"Situasinya kacau dan tidak menguntungkan bagi Amerika," ujar Shekarchi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Minggu (26/7/2026).
Shekarchi menambahkan bahwa AS saat ini tengah berupaya mencari strategi baru. Namun, ia menilai kemungkinan Washington untuk menarik diri dari eskalasi perang sangat bergantung pada izin Zionis, istilah yang merujuk pada pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri AS.
Pelanggaran Nota Kesepahaman Selat Hormuz
Ketegangan ini dipicu oleh perselisihan mengenai pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Brigadir Jenderal Mohammad Reza Akraminia menyatakan bahwa Iran terpaksa mengambil tindakan tegas untuk membela hak-haknya setelah AS dianggap melanggar komitmen internasional.
"AS melanggar komitmennya dan mencoba menciptakan jalur palsu serta ilegal di Selat Hormuz yang bertentangan dengan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu," jelas Akraminia seperti dikutip dari kantor berita Tasnim.
Akraminia mengungkapkan bahwa dalam operasi militer yang dirancang, Angkatan Darat Republik Islam Iran memetakan pangkalan-pangkalan utama AS di kawasan sebagai target operasi.
"Kami menjadikan pangkalan-pangkalan AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, yang dianggap sebagai pangkalan terpenting negara itu di kawasan, sebagai pusat operasi kami," tegasnya.
Eskalasi Serangan dan Upaya Diplomasi
Runtuhnya nota kesepahaman tersebut memicu rangkaian kontak senjata. Sebelumnya, AS dilaporkan melancarkan serangan udara ke wilayah Iran selama 13 malam berturut-turut. Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di tiga negara tetangga tersebut.
Di sisi lain, laporan media AS menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump menghentikan sementara serangan pada Jumat lalu. Keputusan ini diambil karena ada kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan rudal pencegat milik militer AS, sekaligus memberikan ruang bagi kemungkinan upaya diplomasi guna meredam konflik yang lebih luas. (Al Jazeera/I-2)


















































