Jalan Terputus, Tiga Desa di Mapitara Terisolasi dan Distribusi Logistik Tersendat

5 hours ago 1
Jalan Terputus, Tiga Desa di Mapitara Terisolasi dan Distribusi Logistik Tersendat Ilustrasi(MI/Marianus Marselus)

SUASANA di tiga desa di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, belum sepenuhnya pulih setelah gempa dan longsor melanda wilayah tersebut.

Warga Desa Natakoli, Desa Hale, dan Desa Hebing kini menghadapi persoalan lain. Akses jalan utama yang menjadi satu-satunya penghubung menuju Desa Egon Gahar dan jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete tertutup material longsor.

Jalan yang selama ini menjadi urat nadi warga itu tidak hanya digunakan untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi jalur penting untuk pelayanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, serta pengiriman bantuan bagi warga terdampak bencana.

Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan. Sebuah batu berukuran besar bahkan belum dapat disingkirkan menggunakan tenaga manusia. Kondisi tersebut membuat kendaraan roda dua maupun roda empat belum bisa melintas.

Terputusnya akses ini membuat distribusi logistik menuju tiga desa ikut tersendat. Pengiriman kebutuhan pokok dan bantuan bagi warga terdampak gempa harus menghadapi hambatan karena kendaraan pengangkut tidak dapat menggunakan jalur utama.

Sekretaris Camat Mapitara, Stefanus Raga, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena jalan itu merupakan akses terdekat warga menuju wilayah Egon Gahar dan jalan negara Trans Flores.

“Jalan tersebut merupakan jalan satu-satunya dari tiga desa tersebut menuju Desa Egon Gahar dan ke jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete sehingga bisa lebih dekat ke Kota Maumere,” ujar Stefanus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores, Kamis (20/8).

Bagi warga yang membutuhkan bantuan, tertutupnya jalan berarti perjalanan distribusi harus menempuh jalur alternatif yang lebih panjang.

Kendaraan dari tiga desa tersebut harus memutar melalui jalur pesisir selatan Flores, melewati Kecamatan Doreng, Bole, dan Hewokloang, sebelum kembali menuju jalan negara Trans Flores.

Jarak tempuh yang lebih jauh membuat distribusi kebutuhan warga menjadi tidak mudah. Kondisi ini terutama dirasakan dalam situasi tanggap darurat ketika kebutuhan pangan, air, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya harus segera sampai kepada masyarakat.

“kendaraan harus memutar jauh lagi dan jarak tempuhnya lebih lama. Orang pun takut melintasi jalan tersebut karena bisa terkena material longsor sebab daerah tersebut rawan longsor,” kata Stefanus.

Persoalan juga dirasakan dalam pelayanan kesehatan.

Ambulans Puskesmas Mapitara yang hendak merujuk pasien ke RS TC Hillers Maumere harus menggunakan jalur alternatif. Padahal, pasien yang membutuhkan rujukan memerlukan perjalanan yang cepat dan aman.

Terputusnya akses juga berdampak pada hubungan antara warga Desa Egon Gahar dengan pusat pelayanan di Kecamatan Mapitara. Warga dari desa tersebut otomatis mengalami kesulitan untuk menuju Puskesmas Mapitara maupun Kantor Camat Mapitara.

Dalam situasi pascagempa, ketika warga masih membutuhkan pelayanan dan bantuan, jalan yang terputus membuat mobilitas masyarakat dan petugas menjadi semakin terbatas.

Stefanus mengatakan pihak kecamatan telah melaporkan kondisi jalan tersebut kepada Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores.

Pemerintah kecamatan berharap alat berat segera dikirim untuk membuka kembali akses yang tertutup material longsor dan batu besar.

“Saya sudah melaporkan ke Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores dan mudah-mudahan alat berat segera dikirim agar akses transportasi bisa berjalan lancar seperti semula,” ungkapnya.

Bagi warga Natakoli, Hale, dan Hebing, pembukaan jalan bukan hanya soal kelancaran kendaraan.

Jalan yang kembali terbuka berarti bantuan dan logistik dapat lebih cepat menjangkau warga. Ambulans dapat kembali menggunakan jalur terdekat untuk membawa pasien, sementara warga dapat kembali mengakses pelayanan kesehatan dan pemerintahan tanpa harus memutar jauh.

Selama jalan masih tertutup, warga di tiga desa tersebut harus menghadapi jarak yang lebih panjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah masa tanggap darurat pascagempa, akses jalan menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar distribusi logistik dan pelayanan kemanusiaan tidak semakin tersendat.(MM/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |