Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

2 hours ago 4
Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama (Dok. Pribadi)

TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan ilmu, membentuk akhlak, dan membangun keadaban.

Karena itu, setiap kali muncul kabar tentang kekerasan di lingkungan pendidikan agama, yang terluka tidak hanya korban dan keluarganya. Ada luka lain yang patut kita sadari, yakni luka atas retaknya kepercayaan masyarakat. Dan, membangun kembali kepercayaan itu jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.

Peristiwa seperti ini tidak boleh berhenti sebagai berita yang mengundang kemarahan sesaat. Ia harus menjadi bahan renungan bersama. Sebab, di saat ruang-ruang yang diharapkan dibangun untuk membentuk akhlak justru melahirkan kekerasan, ada sesuatu yang perlu kita benahi, yakni tidak hanya pada pelakunya, tetapi juga pada cara kita menjaga amanah.

Persoalan serupa sesungguhnya tidak hanya kita temukan di pesantren. Kita juga pernah menyaksikan penipuan yang mengatasnamakan syariah, investasi yang menjual simbol agama, penyalahgunaan dana umat, hingga berbagai bentuk pelayanan ibadah yang lebih mengutamakan keuntungan daripada pengabdian. Kita bisa melihat bentuknya boleh berbeda, tetapi polanya sama, yakni kepercayaan masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama.

Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Tidak ada agama yang membenarkan penipuan. Tidak ada agama yang memberi tempat bagi penyalahgunaan kepercayaan. Karena itu, setiap upaya menjadikan agama sebagai tameng atau sebagai topeng bagi perbuatan-perbuatan semacam itu sesungguhnya sedang mencederai agama itu sendiri.

Kita pahami bagaimana dalil-dalil yang diturunkan berbicara tentang amanah bukan sekadar pesan moral. Ia merupakan sebuah fondasi dari setiap kepercayaan yang diberikan kepada seseorang.

Masyarakat menghormati guru, ulama, pengasuh pesantren, pembimbing ibadah, dan para pelayan umat bukan semata karena jabatan atau kedudukannya. Mereka dihormati karena dipercaya menjaga amanah. Kepercayaan itulah yang menjadi sumber kewibawaan.

Sosiolog Max Weber pernah mengingatkan bahwa ada kekuasaan yang lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kepercayaan. Orang mengikuti karena percaya. Justru karena itulah, penyalahgunaan kepercayaan selalu meninggalkan luka yang lebih dalam ketimbang penyalahgunaan kekuasaan biasa.

Beberapa waktu lalu, saya menulis bahwa jemaah haji tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas. Keyakinan itu tidak berubah. Namun, semakin lama saya mencermati berbagai persoalan yang muncul di ruang-ruang keagamaan, semakin saya menyadari bahwa persoalannya lebih mendasar. Sebelum manusia diperlakukan sebagai komoditas, yang lebih dahulu diperdagangkan ialah kepercayaan.

Pengalaman dalam penyelenggaraan haji mengajarkan banyak hal. Praktik rente, permainan kepentingan, atau berbagai bentuk penyimpangan tidak pernah lahir begitu saja. Semua bermula ketika pelayanan bergeser menjadi transaksi, ketika amanah dipandang sebagai peluang, bukan tanggung jawab. Pada saat itulah kepentingan pribadi mulai mengalahkan kepentingan umat.

Pelajaran itu berlaku di mana saja. Di pesantren, di lembaga pendidikan, di lembaga filantropi, di organisasi keagamaan, maupun dalam pelayanan publik yang berkaitan dengan ibadah. Selama ada kepercayaan, di situ ada amanah yang harus dijaga.

Karena itu, tidak boleh ada kekebalan hanya karena seseorang mengenakan simbol agama atau memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Mengoreksi penyimpangan bukanlah bentuk permusuhan terhadap agama. Sebaliknya, itulah cara menjaga kehormatan agama agar tidak diperalat oleh mereka yang menjadikannya tempat berlindung.

Agama tidak akan kehilangan kemuliaannya hanya karena kita berani mengoreksi penyimpangan yang terjadi atas namanya. Justru kemuliaan agama dijaga oleh keberanian untuk menegakkan keadilan dan merawat kepercayaan yang dititipkan umat. Sebab, dikala kepercayaan itu hilang, yang akan hilang tidak hanya wibawa sebuah lembaga. Kita kehilangan keyakinan bahwa agama tetap menjadi tempat paling aman untuk menitipkan harapan.

Kita harus menempatkan ajaran agama bahwa semakin berilmu dan dekat seseorang dengan agama, ia sejatinya semakin takut kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, bukan sebaliknya. Pemahaman yang benar akan menumbuhkan sifat khasyyah (rasa takut yang diiringi pengagungan) yang mencegah seseorang dari berbuat dosa, sehingga sejatinya pasti bisa menjaga amanah yang diemban.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |