ilustrasi(Magnific)
ROKOK selama ini dikenal luas sebagai pemicu utama gangguan kesehatan paru-paru dan jantung. Namun, di balik berbagai ancaman tersebut, paparan zat kimia berbahaya dari rokok juga menyimpan dampak mematikan terhadap sistem reproduksi manusia serta peluang untuk mendapatkan keturunan.
Risiko pada Kehamilan
Merokok tidak hanya berkaitan dengan kesehatan paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi. Asap rokok diketahui berkaitan dengan berbagai komplikasi kehamilan, mulai dari gangguan pertumbuhan janin hingga gangguan pada fungsi reproduksi dan sel reproduksi.
Beberapa komplikasi yang berkaitan dengan kebiasaan merokok selama kehamilan antara lain kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan, abrupsio plasenta, plasenta previa, pecah ketuban sebelum waktunya, hingga kematian perinatal.
Risiko tersebut menunjukkan bahwa dampak merokok tidak hanya muncul ketika kehamilan sudah terjadi. Paparan asap rokok juga dapat memengaruhi fungsi reproduksi sebelum kehamilan
Penurunan Fungsi Ovarium
Salah satu dampak yang berkaitan dengan fungsi reproduksi perempuan adalah lebih cepatnya penurunan fungsi ovarium. Perempuan yang merokok mengalami menopause atau terhentinya siklus menstruasi sekitar satu hingga empat tahun lebih awal dibandingkan perempuan yang tidak merokok.
Bahan kimia dalam asap rokok diduga dapat mempercepat penipisan folikel ovarium, yaitu struktur di dalam ovarium yang berkaitan dengan perkembangan sel telur. Kondisi ini dapat menyebabkan fungsi reproduksi menurun lebih cepat.
Kerusakan Sel Reproduksi
Selain memengaruhi fungsi ovarium, paparan asap tembakau juga dapat berdampak pada sel reproduksi. Proses pembentukan sel reproduksi atau gametogenesis disebut rentan terhadap kerusakan akibat asap tembakau.
Paparan tersebut dapat menyebabkan kerusakan kromosom dan DNA pada sel reproduksi manusia. Jumlah sel telur dengan kelainan kromosom juga ditemukan meningkat seiring dengan jumlah rokok yang dihisap per hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa merokok dapat mengganggu proses pembelahan sel pada manusia.
Pada perempuan hamil, merokok juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keturunan dengan trisomi 21 atau Down Syndrome akibat gangguan pemisahan kromosom saat pembentukan sel telur.
Beberapa komponen asap rokok, seperti nikotin, karbon monoksida, dan sianida, memiliki sifat yang dapat menyempitkan pembuluh darah dan mengganggu proses metabolisme. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pada fungsi plasenta serta membatasi pertumbuhan embrio dan janin hingga berisiko menyebabkan kematian.
(Kemenkes/American Society for Reproductive Medicine/P-4)


















































