Kabut asap kebakaran hutan dan lahan Kota Pekanbaru(MI/Rudi Kurniawansyah)
KABUT asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali pekat menyelimuti Kota Pekanbaru. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang menurun hingga kurang dari 1.000 meter.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono, mengatakan penurunan jarak pandang tersebut dipengaruhi asap Karhutla yang terbawa angin dari wilayah selatan. Titik api di Riau sebanyak 29 firespot.
"Titik api ini terpantau di Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Jadi, asap di Pekanbaru terbawa dari selatan," ujarnya, Rabu (16/9).
Kondisi kebakaran di wilayah luar Riau juga cukup signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau terdapat lebih dari 2.000 titik api di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dan lebih dari 400 titik api di Provinsi Jambi.
Dengan kondisi tersebut, arah pergerakan angin turut membawa asap menuju wilayah Riau, termasuk Pekanbaru.
"Arah angin dari tenggara ke selatan menuju utara. Asap berasal dari Sumatra Selatan dan Jambi," ujarnya.
Kondisi serupa juga berpotensi memengaruhi kualitas udara di negara tetangga. Pergerakan asap menuju Singapura diperkirakan berasal dari wilayah Sumatra, termasuk Jambi, atau bahkan Kalimantan, sesuai dengan pola arah angin.
Sementara itu, kualitas udara di Pekanbaru masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi partikulat tercatat sekitar 220 mikrogram per meter kubik.
"Untuk kondisi ISPU atau kondisi udara, di BMKG tercatat 220. Tingkatannya sudah masuk kategori bahaya," ujarnya.
Kondisi kualitas udara sempat mengalami penurunan pada pagi hari. Tetapi, konsentrasi partikulat masih berada di atas ambang 150 mikrogram per meter kubik.
"Masih dalam kategori sangat tidak sehat karena rata-rata masih di atas 150 mikrogram per meter kubik," pungkasnya. (RK)


















































