Kabut asap selimuti Batam, PM2,5 kategori sedang. Jarak pandang 4.000 meter — tidak ada pesawat dibatalkan/dialihkan.(MI/Hendri Kremer)
Kabut asap dilaporkan telah menyelimuti wilayah Batam sejak kemarin. Kondisi kualitas udara saat ini berada pada tingkat yang perlu diwaspadai dan diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam, Ramelan, menjelaskan bahwa berdasarkan pengukuran partikulat halus atau PM2,5, kondisi udara di wilayah tersebut menunjukkan tren memburuk.
"Pada Selasa, 15 September 2026 pukul 14.00 WIB, konsentrasi PM2,5 di Batam tercatat 46,6 mikrogram per meter kubik. Angka ini masuk kategori sedang berdasarkan pemantauan kualitas udara," ujar Ramelan pada Kamis (17/9).
Meski kabut asap mulai terlihat di sejumlah titik kota, situasi tersebut dipastikan belum mengganggu kelancaran maupun keselamatan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim.
Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB), Annang Setia Budhi, mengungkapkan bahwa jarak pandang (visibility) di kawasan bandara pada Selasa siang berada di kisaran 4.000 meter. Angka ini dinilai masih jauh di atas batas minimum keselamatan penerbangan.
"Hingga saat ini, operasional Bandara Hang Nadim tetap berjalan normal dan aman. Tidak ada penerbangan yang dialihkan, dibatalkan, maupun mengalami keterlambatan akibat kabut asap di Batam," tegas Annang.
Terkait adanya penyesuaian jadwal pada maskapai Lion Air rute Pontianak–Batam pukul 09.35 waktu setempat, Annang mengklarifikasi bahwa hal tersebut bukan disebabkan oleh kondisi cuaca di Batam. Penundaan terjadi karena jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, yang berada di bawah batas keselamatan.
Manajemen BIB menegaskan berkomitmen untuk melakukan pemantauan cuaca dan jarak pandang secara berkala. Pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG dan AirNav secara waktu nyata (real-time) serta telah menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi perubahan kondisi yang signifikan.
Di sisi lain, BMKG memprediksi potensi hujan ringan masih akan turun di wilayah Kepulauan Riau dalam beberapa hari ke depan.
"Hujan di sejumlah wilayah berpeluang membantu memperbaiki kualitas udara, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada perkembangan cuaca dan sumber partikulat di udara," pungkas Ramelan.
Hingga saat ini, pemantauan ketat terhadap kualitas udara dan jarak pandang terus dilakukan, terutama untuk mengantisipasi jika konsentrasi partikulat meningkat atau jarak pandang menurun mendekati batas keselamatan penerbangan. (H-2)


















































