Kapasitas Capai 1,67 GW, Data Center Energy Hunger Dikupas dalam Energy Week

1 month ago 10
Kapasitas Capai 1,67 GW, Data Center Energy Hunger Dikupas dalam Energy Week Diskusi pada Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 202 di Jakarta, Rabu (19/8).(MI/Iis Zatnika)

Pertumbuhan industri data center di Indonesia terus melaju seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan digital dan kecerdasan artifisial (AI). Namun, di balik besarnya peluang investasi tersebut, aspek keberlanjutan menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi, terutama terkait kebutuhan energi, air, jaringan listrik, dan ketersediaan talenta.

Hal tersebut disampaikan Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma dalam jumpa media Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).

Menurut Hendra, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang menarik bagi investasi data center. Kapasitas data center terpasang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 650 megawatt (MW) dan berpotensi meningkat menjadi 1,67 gigawatt (GW) pada akhir 2026.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Proyeksi awal kebutuhan kapasitas data center Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai 2,3 GW. Angka tersebut dinilai berpotensi terlampaui secara signifikan. Bahkan, kebutuhan kapasitas data center dapat mencapai 11,7 GW.

“Banyak sekali investasi masuk ke industri data center. Tentunya, kita harus bisa mengantisipasi faktor atau komponen keberlanjutan dari pembangunan ini ke depannya,” ujar Hendra.

AI serap energi
Hendra menjelaskan, pertumbuhan data center tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan komputasi, terutama untuk pengembangan AI. AI membutuhkan energi lebih besar karena proses komputasi yang sebelumnya banyak menggunakan central processing unit (CPU) kini bergeser ke penggunaan graphic processing unit (GPU) yang membutuhkan kapasitas komputasi lebih besar.

Sebagai gambaran, kebutuhan energi untuk pencarian menggunakan mesin pencari tanpa AI disebut sekitar 0,28 watt, sedangkan pencarian menggunakan AI dapat mencapai sekitar 3,7 watt.
Kebutuhan energi bahkan dapat meningkat puluhan kali lipat untuk aplikasi seperti text-to-graphic maupun text-to-video. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan data center tidak lagi sekadar persoalan pembangunan infrastruktur digital, tetapi juga berkaitan erat dengan kebutuhan dan keberlanjutan energi, sehingga muncul istilah power hungry.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu lokasi pengembangan data center di kawasan. Selain memiliki basis pengguna internet yang besar, Indonesia juga menjadi tujuan investasi berbagai perusahaan teknologi global.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet nasional telah mencapai lebih dari 82%, dengan sekitar 200 juta pengguna internet. Besarnya pasar digital tersebut turut mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi dan penyimpanan data.

Energi dan air
Namun, pertumbuhan data center menghadirkan sejumlah tantangan. Salah satunya adalah bagaimana memastikan ketersediaan transmission line dan jaringan distribusi listrik untuk memenuhi kebutuhan data center secara cepat dan andal.
“Isunya bukan demand, tetapi bagaimana strategi eksekusinya. Bagaimana membuatnya lebih cepat?” ujar Hendra.

Selain listrik, ketersediaan air menjadi isu penting dalam pembangunan data center. Sistem pendinginan fasilitas data center membutuhkan sumber daya air dalam jumlah tertentu. Penggunaan air tanah secara tidak terkendali dikhawatirkan dapat berdampak terhadap lingkungan, termasuk meningkatkan risiko penurunan muka tanah.

Karena itu, menurut Hendra, diperlukan pendekatan kawasan dengan menyediakan infrastruktur pendukung secara bersama. Kawasan industri, termasuk di Batam dan kawasan JIC, dinilai dapat menjadi bagian dari solusi dengan menyediakan fasilitas pendukung yang lebih terintegrasi bagi industri data center.

“Kita berharap ada sumber atau fasilitas pendukung khusus yang dapat dimanfaatkan bersama oleh industri,” katanya.

Hendra menjelaskan, ada beberapa wilayah seperti Johor Bahru, Malaysia, yang telah melakukan moratorium terkait pembangunan data center AI karena besarnya konsumsi energi.

Talenta jadi tantangan
Selain energi dan air, ketersediaan sumber daya manusia juga menjadi persoalan yang perlu segera ditangani. Pertumbuhan industri data center meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga engineer dan tenaga profesional dengan kompetensi khusus.
Hendra mengatakan, persoalan pool of talent developer menjadi salah satu tantangan yang kerap dikeluhkan industri karena kebutuhan tenaga engineer terus meningkat.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, IDPRO bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan perusahaan, termasuk Universitas Indonesia (UI), untuk menghadirkan program pengembangan talenta khusus bagi industri data center.
IDPRO juga menyediakan program pelatihan bagi masyarakat yang ingin memasuki industri data center. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas ketersediaan tenaga profesional seiring meningkatnya kebutuhan industri.

Pengembangan data center yang berkelanjutan pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi digital dan daya dukung lingkungan. Besarnya investasi dan kebutuhan komputasi tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan mengenai sumber energi, efisiensi penggunaan air, kesiapan jaringan listrik, serta ketersediaan tenaga profesional.

Karena itu, momentum pertumbuhan data center di Indonesia perlu diikuti dengan strategi pembangunan yang sejak awal memasukkan prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi lokasi investasi data center, tetapi juga mampu membangun ekosistem infrastruktur digital yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan.

Pada Energy Week, yang berlangsung pada 2–5 September 2026, rangkaian program akan menghadirkan empat hybrid stages dengan 21 sesi seminar, melibatkan 73 thought leaders, serta didukung oleh 12 asosiasi. Pekan pertama ini akan mempertemukan Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia, dan Data Center Asia–Indonesia, yang masing-masing menghadirkan perkembangan teknologi dan solusi di bidang ketenagalistrikan, baterai dan penyimpanan energi, serta infrastruktur digital.
Keterhubungan ketiga sektor tersebut mencerminkan kebutuhan terhadap sistem energi yang semakin andal dan efisien, sekaligus mampu menjawab perkembangan elektrifikasi dan ekonomi digital.

Pada acara tersebut, kata Hendra, juga akan dilakukan sosialisasi terkait Data Center White Paper yang telah diluncurkan pada 2022 serta Indonesia Sustainable Data Center Index Book. Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 terdiri dari Energy Week pada 2–5 September 2026 dan Engineering Week pada 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran. (X-6)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |